post image
Dian Sastrowardoyo/Net
KOMENTAR

PEMILIK nama lengkap Diandra Paramita Sastrowardoyo menjadi salah satu perempuan Indonesia yang dianggap 'sempurna'. Banyak orang penasaran, apa yang tidak dimiliki seorang Dian? Paras menawan, kecerdasan, pendidikan tinggi, akting mumpuni, kepopuleran, kekayaan, dan keluarga harmonis, semua yang didambakan perempuan, dimiliki Dian.

Namun tak banyak orang tahu, kesuksesan yang dinikmati Dian sekarang ini adalah pencapaian dari 'dendam' masa kecilnya.

Bukan terlahir dari orangtua kaya raya, Dian mengaku pernah mengalami perlakuan tidak mengenakkan saat ia kecil. Hal itu diungkap Dian dalam Heart to Heart with Dewi Sandra. Saat itu ia berkunjung ke rumah om dan tantenya yang sangat berkecukupan. "And then somehow aku tuh, baru belajar yang namanya oh, aku nggak dianggap, hanya karena kami lebih nggak punya. Pernah bilang (ke sepupu), 'mbak. aku pinjem barbie dong' tapi diacuhin. Dan itu sering," kenang Dian.

Ia yang masih kecil bertanya ke sang Mama mengapa ia diperlakukan seperti itu. Dan inilah nasihat Mama untuknya yang tidak pernah ia lupa. "Dian, kamu inget. Sekarang mereka bisa melakukan itu ke kamu. Tapi kalau kamu rajin belajar, kamu disiplin sama diri kamu, lihat 10 tahun dari sekarang. Kamu jadi apa, mereka jadi apa. Kalau kamu mau, kamu bisa jadi 'orang'."

Pengalaman itulah yang membuat Dian tak mau memilih teman berdasarkan status ekonomi. Kalau bertemu dengan orang yang menurutnya baik, kreatif, bisa bekerja sama, dan membuat kontribusi yang bermakna, ia tak ragu untuk berteman dengan mereka. Apalagi jika mereka adalah bagian dari keluarga.

Bukan hanya soal penolakan yang ia alami, Dian kecil juga merasakan momen terberat dalam hidupnya. Dalam satu pekan, ia harus kehilangan dua figur orangtua. Ketika pada hari Rabu, sang Mama berangkat ke luar negeri karena mendapat beasiswa S2, empat hari kemudian (Minggu), bapaknya yang menderita penyakit liver meninggal dunia.

Stres dan depresi, Dian mengaku sempat terpikir mengakhiri hidup. Namun akal sehat Dian menyadarkannya untuk tidak membuat sang Mama bersedih dan kecewa. Hingga kemudian Dian memilih mengukir prestasi. Pada tahun 1996, satu tahun setelah Bapak wafat, Dian memberanikan diri mengikuti ajang Gadis Sampul dan menang!

Pada awalnya, dendam masa kecil itu membuat Dian bertekad meraih kesuksesan untuk membuktikan kepada Mama tercinta. Sang Mama yang bekerja sangat keras untuk menghidupi dan memberikan yang terbaik untuk putri tunggalnya. Merasakan perjuangan sang Mama, Dian pun tumbuh menjadi pribadi yang tidak cengeng bahkan cenderung memaksakan diri untuk selalu kuat dalam kondisi apa pun.

Dulu, perjalanan hidup Dian hanya untuk membuktikan kepada sang Mama untuk bisa menjadi 'orang' dan membuat mamanya bangga. Tujuannya, agar orang-orang yang dulu meremehkan mereka berdua tidak bisa lagi berbuat seperti itu.

Namun akhirnya Dian menyadari sesuatu. Dari sebuah buku, ia belajar bahwa tujuan hidup jangan hanya untuk membuktikan kepada orang lain. Karena jika nanti telah sampai pada tujuan tersebut, ia tidak akan bisa bahagia. Hal itu justru menjadi racun. Membuktikan kemampuan diri adalah hal yang baik, tapi bukan untuk membuktikan diri kepada orang lain. Jika pun nanti sukses, tidak akan merasa bahagia karena yang dicari adalah persetujuan orang lain.

Sangat penting mencari alasan yang lebih baik untuk menjadi sukses. Dian mencontohkan isi buku itu. Ada satu orang yang bertekad belajar dengan keras supaya bisa masuk Ivy League (8 universitas papan atas AS) sedangkan satu orang lagi bertekad belajar giat untuk bisa mengajari saudara perempuannya karena keluarganya tak mampu membiayai masuk universitas.

"That should be the reason in your life. Jika ingin membuktikan diri kalau kamu bisa, kesuksesan itu seharusnya bukan hanya untuk diri kamu sendiri, tapi kesuksesan yang ada manfaatnya untuk orang lain juga," ujar Dian.

Dian menjelaskan bahwa ia menabung untuk bisa kuliah di luar negeri. Melihat para sepupunya yang berkuliah di luar negeri, timbul tekad dalam dirinya untuk bisa seperti mereka. Karena itulah ia bekerja keras dalam karirnya untuk mengumpulkan uang demi bersekolah di luar negeri.

Tapi rencana Allah berkata lain. Hal itu tak pernah terjadi dalam hidupnya. Beberapa tahun lalu, barulah ia menyadari bahwa ia memang tak ditakdirkan Allah untuk pergi ke luar negeri. Karena jika ia pergi, ia tak akan bisa berbuat sesuatu di Tanah Air. Termasuk menikah, melahirkan ana, dan mengurus keluarga.

Hingga akhirnya ia berpikir bahwa Allah telah memberinya rezeki berlimpah, ia yakin banyak Dian-Dian kecil di desa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri tapi tidak punya biaya. Dengan uang yang awalnya ia tabung untuk rencana kuliah ke luar negeri, ia salurkan untuk Beasiswa Dian. Ia membiayai anak-anak berprestasi dari keluarga tidak mampu hingga lulus kuliah.

Dian mencontohkan, anak kuli bangunan yang selalu jadi juara kelas. Ada pula anak penjual nasi kucing yang ingin kuliah karena ingin bekerja, dengan tujuan agar ibunya tak lagi berjualan di malam hari. Atau seorang kakak yang ingin kuliah supaya dapat kerja demi membiayai adiknya karena orangtua tak ada bersama mereka.

Dian bersyukur dipertemukan dengan mereka. 'Beasiswa' yang awalnya untuk ia berangkat ke luar negeri, akhirnya menjadi beasiswa mereka. Dimulai tahun 2015/2016, saat ini sudah ada 3 angkatan yang diikuti 17 anak. Sudah ada 7 orang yang lulus. Ada yang kerja kantoran, berprofesi sebagai pengacara, juga ada yang menjadi dokter.

Apa yang membuat Dian begitu peduli dengan pendidikan, terutama bagi kaum perempuan? Mengapa perempuan harus menjadi pintar?

Dian mencontohkan dirinya sendiri. Menurutnya ia menjadi seperti sekarang ini tanpa ada yang mengajari, tapi ia melihat sosok Mama yang bekerja begitu keras. Anak yang melihat ibunya bekerja keras dalam hal apa pun, akan terbentuk menjadi pekerja keras juga. Anak tentu tak mau meremehkan kerja keras ibunya.

Dian ingin anak-anak Indonesia yang masih kecil-kecil saat ini kelak melihat ibu mereka pekerja keras dan tumbuh menjadi pekerja keras. Karena pada masa anak-anak ini mendewasa kelak, tantangan hidup yang mereka hadapi akan jauh lebih berat.

"Negara kita masih banyak PR-nya. Kemiskinan, pendidikan, ekonomi yang timpang sana-sini...sangat banyak yang harus diurus. Agar bisa menyelesaikan PR-PR itu, orang Indonesia harus mau bekerja keras, mau belajar. Untuk bisa mempunya habit seperti itu, pembelajarannya bukan di sekolah melainkan dimulai di keluarga. Karena di rumah, ibu adalah madrasah pertama, guru pertama, bagaimana caranya ibu menjadi guru yang hebat. Karena pada hakikatnya semua perempuan adalah guru by nature. Bagaimana mau hebat jika perempuan tidak mau mendengar, tidak mau menerima masukan, tidak mau membaca, dan tidak mau mencari tahu," kata Dian.

Dian menambahkan bahwa perempuan adalah bagian dari populasi umat manusia, bukan ornamental, bukan aksesoris, bukan 'penari latar'. Perempuan punya peranan yang sama dengan laki-laki untuk menyelesaikan PR-PR tersebut.  

Mantan Pengamen Ini Sumbang 1 Milyar Cash untuk Bangun Sekolah

Sebelumnya

"Sang-Chi: The Legend of Ten Rings" Ramaikan Pembukaan Bioskop Ibukota

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Entertainment