post image
Apabila mampu menyerap pesan iman, aman dan imun ini dari perspektif agama, maka kita akan lebih bersemangat meraih manfaatnya/ Net
KOMENTAR

TERPUJILAH pihak yang telah menggagas dan mengampanyekan; iman, aman dan imun. Tiga aspek yang begitu kentara urgensinya di masa pandemi ini ternyata punya korelasi religius dengan Islam.  

Pertama iman, rasanya tak perlu panjang lebar menjelaskan hal ini, siapa sih yang tak paham iman? Justru yang menarik itu, apa hubungannya iman dengan Covid-19? Atau, lebih spesifiknya, apa kaitannya keimanan dengan kesehatan?

Begini.

Dalam ajaran Islam, segala urusan senantiasa dikaitkan dengan iman; mau bahagia, mau sukses iman, mau surga iman, mau sembuh iman, mau sehat iman. Pokoknya iman itu menjadi faktor penting di segala lini kehidupan.

Namun ada yang menyindir, “Kalau sakit ya ke dokter, berobat sana!”

Ungkapan ini lebih menganjurkan agar kita fokus pada pengobatan daripada keimanan, begitulah hendaknya kalau lagi sakit. Benarkah demikian?

Ada dua aspek yang perlu diluruskan dari pandangan ini: dokter hanya berupaya memberikan pengobatan, tetapi kesembuhan itu urusannya Allah; dan jangan lupa, ternyata keimanan itu berhubungan dengan erat kesehatan fisik.

Mungkin selama ini yang sering tersiar keimanan itu berpengaruh kepada kesehatan mental. Ini benar. Tetapi akan lebih benar lagi kalau kita mencerna dengan baik betapa keimanan itu amat menunjang kesehatan fisik.

Sebagaimana yang dikutip oleh buku Livin Good & Healthy karya Iskandar Junaidi, bahwa pada tahun 1997, The Journal of the American Medical Association  melaporkan secara statistik hubungan antara keyakinan agama dan ukuran kesehatan yang menunjukkan perbedaan signifikan tinggi terjadinya kematian di antara kelompok yang tidak beragama, akibat terserang berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, hipertensi, stroke, kanker dan penyakit saluran cerna.

Dekade ini, hadir lebih dari 1.200 artikel ilmiah yang membahas mengenai hubungan atau pengaruh agama/kepercayaan terhadap kesehatan fisik, yang menunjukkan hasil dan manfaat positif bagi kesehatan sebesar 80-90 persen.

Masih dari buku Livin Good & Healthy diterangkan, bahwa iman berdampak pada tubuh, dengan cara: a. Memperbaiki fungsi kekebalan yang meningkatkan kemampuan tubuh untuk menangkal infeksi berbagai bakteri dan virus. b. Menurunkan tingkat stres, rasa marah, gelisah, dan rasa takut. c. Mengurangi pengaruh kanker, hipertensi, dan stroke. d. Mengurangi ketidaksuburan. e. Mengurangi terjadinya depresi.

Kedua, aman, yang mengampanyekan pemakaian masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Maka sejatinya Islam sangat memperhatikan faktor aman dalam menjaga kesehatan. Intinya, kita perlu melakukan langkah-langkah pengamanan diri, agar terhindar dari sakit dan menjaga diri agar tetap sehat.

Uniknya ada hadis yang dengan amat indah menyandingkan antara aman dengan sehat. Dari Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary dari Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa di antara kalian memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah dia diberi dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi)

Aman itu butuh upaya pencegahan agar tidak terjangkiti, maka Islam menggiatkan umatnya berwudu, mencuci tangan, bersiwak, dan perilaku hidup sehat lainnya. Pada banyak banyak hadisnya, Rasulullah mengingatkan faktor aman dalam kegiatan keseharian demi menjaga kesehatan.

Ketiga, imun, yang mengampanyekan istirahat cukup, olahraga, tidak panik, bahagia dan makanan yang meningkatkan daya tahan tubuh. Intinya, kampanye tentang imun adalah melakukan berbagai upaya meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh.

Jangan diragukan lagi, betapa seringnya Nabi Muhammad mengingatkan pentingnya faktor imun ini. Bahkan beliau telah melakukan kampanye tersebut semenjak belasan abad yang lampau, saat manusia masih kelam diselimuti masa jahiliyah, tapi imunitas telah menjadi bagian penting dalam kehidupan dirinya dan umatnya.

Salah satu yang luar biasa pengaruhnya bagi imunitas adalah madu. Dan yang lebih luar biasa lagi, berabad-abad yang lampau kitab suci Al-Qur’an telah menerangkannya, pada surat An-Nahl ayat 69, yang artinya, “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

Maka gegerlah para ilmuan, dan tak terhitung penelitian yang mengkaji tentang khasiat madu, yang kian menujukkan betapa spektakulernya pesan Al-Qur’an.

Salah satunya, Danial Zainal Abidin dalam buku Al-Qur'an for Life Excellence mengungkapkan, bahwa ahli-ahli sains dari berbagai negara termasuk Amerika membenarkan khasiat madu lebah di World Apiculture Conference yang diadakan pada 20-23 September 1993 di Cina.

Madu lebah mengandung gula asli glukosa dan fraktosa yang mudah dicerna. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, B3, B5, B6 dan C di samping berbagai zat logam seperti magnesium, potasium, kalsium, sodium, klorin, belerang dan zat besi.

Kini, dalam rangka menangkal Covid-19, pakar-pakar kesehatan mengampanyekan imunitas atau daya tahan tubuh, yang salah satu sumber utamanya adalah madu. Ya, sesuatu yang sudah disebat Al-Qur’an sejak belasan abad yang lampau, sebelum virus ganas ini merajalela.

Ahmad Fuad Pasha dalam buku Dimensi Sains Al-Qur'an menyebutkan, bahwa kajian tentang madu lebah menempati posisi penting dalam konferensi-konferensi kedokteran dunia. Dalam madu lebah ditemukan jenis enzim yang dapat menghentikan perkembangbiakan mikrob, enzim-enzim yang menyemangatkan interaksi biologis dalam tubuh manusia, menambah kekebalan tubuh, dan mengusir penyakit yang menyerangnya.

Tentunya bukan madu saja, banyak sumber makanan dan minuman lainnya yang dijelaskan oleh ajaran Islam, yang amat besar khasiatnya terhadap imunitas. Maka, jangan heran, betapa besarnya perhatian Islam terhadap kesehatan, yang mengedepankan aksi preventif atau pencegahan.

Apabila mampu menyerap pesan iman, aman dan imun ini dari perspektif agama, maka kita akan lebih bersemangat meraih manfaatnya. Andaipun Covid-19 ini telah berakhir (amin!), maka kampanye tiga hal ini sangat bermanfaat untuk dilanjutkan. Apalagi ada dimensi religiusnya yang kental.

Close X

Pahlawan Vaksinasi

Sebelumnya

Memupuk Tawadhu’ Yang Kian Langka

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam