post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

RAUT mukanya tampak kesal ketika berkata, “Saya disuruh ikhlas beramal melulu, kapan nih dibayarnya?”

Satu kalimat di atas sebetulnya memiliki beberapa dampak yang perlu diluruskan: pertama, ikhlas itu bukan berarti kerjanya tidak dibayar.

Contohnya, Kementrian Agama Republik Indonesia memiliki motto ikhlas beramal yang tercantum pada logonya. Tetapi, seluruh pegawai kementrian ini tetap digaji dengan baik oleh negara, dan mereka insyallah orang-orang yang ikhlas dalam bekerja.

Kedua, jangan runtuhkan keagungan ikhlas dengan memakainya guna mengakali orang lain agar bekerja tanpa dibayar. Ketiga, keikhlasan itu amalan hati yang amat mulia, bukanlah sesuatu yang pantas dipakai untuk yang kurang baik.

Memang telah menjadi cerita yang nyaris basi, dimana masih saja ada orang yang salah kaprah dengan ikhlas beramal. Padahal sejatinya agama Islam menjunjung tinggi keadilan dan tidak mungkin menzalimi hak-hak manusia. Bahkan Nabi Muhammad pernah berpesan agar membayar upah pekerja secepatnya, bahkan sebelum peluhnya mengering.

Namun upah, bayaran, gaji, honor, uang atau apalah itu istilahnya, bukan pula tujuan tertinggi dari amalan insan beriman. Berapapun besarnya honor, upah, gaji dan lainnya tidak akan bermakna apa-apa jika dalam amalan tidak berlandaskan keikhlasan.

Manusia jenis ini akan berkeluh-kesah, tidak pandai mensyukuri nikmat dan senantiasa merasa tidak bahagia dengan apa yang dikerjakannya. Nah, apa gunanya pekerjaan yang tidak akan membuat kita bahagia?

Karena ikhlas itu amalan hati, seringkali orang kebingungan bagaimana cara praktiknya. Padahal para ulama dan orang-orang saleh telah banyak membahas amalan penuh keikhlasan itu, di antaranya ciri-ciri ikhlas yang dikupas oleh Syekh Abd al-Hamid al-Anquri (ulama abad 8 Hijriyah):
Seorang ahli hikmah pernah ditanya, “Siapakah orang yang ikhlas itu?”
Jawabnya, “Orang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan amal kebaikannya sebagaimana ia menutupi amal keburukannya.”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Ada empat tanda orang yang ria dalam beramal, yaitu malas beramal jika sendirian, rajin beramal jika banyak orang, semakin rajin beramal jika mendapat pujian, dan semakin malas beramal jika mendapat celaan.”

Seorang ahli hikmah berpendapat, orang yang beramal hendaknya meniru adab beramal yang dipraktikkan penggembala kambing. Jika si penggembala kambing melakukan shalat di samping gembalaannya, maka shalatnya tak akan pernah dipuji oleh kambing-kambingnya.

Dengan penjelasan di atas, tidak ada lagi alasan bagi kita merasa sulit ikhlas hanya disebabkan itu merupakan amalan hati. Tinggal bagaimana kemauan kita dalam membimbing hati menuju jalan-jalan keikhlasan. Nah, agar nilai pekerjaan kita menjadi lebih tinggi, akan amat berguna bila kita memahami konsep ikhlas beramal.

Shalih Ahmad Asy-Syami pada buku Untaian Nasihat Al-Ghazali menguraikan, ketahuilah bahwa ikhlas, menurut para ulama ada dua macam: "Ikhlas beramal" dan "ikhlas mencari pahala." “Ikhlas beramal” adalah melakukan kebaikan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, dan ditujukan untuk mengagungkan dan memenuhi seruan-Nya.

Dan yang bisa mendorong lahirnya ikhlas semacam ini adalah akidah (keyakinan) yang benar. Kebalikannya adalah kemunafikan, yaitu melakukan perbuatan dengan niat mendekatkan diri kepada selain Allah.

Sedangkan “ikhlas mencari pahala” adalah melakukan kebaikan dengan niat mendapat manfaat akhirat. Kebalikan dari ikhlas semacam ini adalah riya, yaitu melakukan kebaikan dengan niat mendapat keuntungan dunia. “Ikhlas beramal” akan membuat kebaikan yang dilakukan menjadi penghubung dengan Allah. “Ikhlas mencari pahala” akan membuat kebaikan yang dilakukan diterima dan dibalas dengan pahala. Sedangkan  kemunafikan akan membuat kebaikan yang dilakukan menjadi pemisah dari Allah. sementara riya akan membuat kebaikan yang dilakukan ditolak dan tidak dibalas dengan pahala.

Hanya orang-orang yang memiliki pondasi yang kokoh yang memiliki kemampuan ikhlas beramal. Seorang guru telah digaji dengan layak, dan dia pun sudah mengajar di kelas sesuai jadwal. Apakah itu cukup? Ya, sebetulnya asal tugas-tugas selesai maka tanggung jawabnya telah beres.

Namun dengan keyakinan akidah yang kokoh, guru tersebut meningkatkan kualitas dirinya sebagai pengajar, di luar jam kerja ia masih mendidik dan memantau perkembangan murid-muridnya. Dan hanya dirinya dan Tuhan yang mengetahui pengabdian tulusnya melebihi jam mengajar resminya, maka insyallah guru tersebut ikhlas beramal.

Pada dasarnya manusia ingin mendapatkan sesuatu yang lebih, selain gaji juga senang dapat bonus, misalnya. Dan lebih daripada itu, ada sesuatu yang membuat kita lebih tinggi derjatnya di hadapan Tuhan, yaitu ikhlas beramal.

Hati manusia gampang terbolak-balik; sekarang memuja esoknya mencela, dahulu loyang sekarang besi, dahulu sayang sekarang benci. Hanya Allah yang tidak akan pernah berubah sedikitpun memuliakan hamba-hamba-Nya yang ikhlas.     
 

 

Close X

Hiasi Diri Dengan Malu

Sebelumnya

2 Kematian dan 2 Kehidupan yang Mesti Dilalui Setiap Insan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam