post image
Salah satu industri yang terkena dampak dari berbagai krisis Lebanon dan ledakan Beirut adalah fesyen/ Net
KOMENTAR

LEDAKAN 2750 ton amonium nitrat yang disimpan di sebuh gudang di area Pelabuhan Beirut menghancurkan setengah ibu kota Lebanon pada 5 Agustus 2020. Ada 300 ribu warga kehilangan tempat tinggal. 5000 orang terluka. Nyawa 154 orang melayang. Jarak gudang ke pusat perbelanjaan dan aktivitas hiburan malamm dalam beberapa menit berjalan kaki.

Negara yang dipimpin Michel Aoun itu luluh lantak tak berdaya. Sebelum ledakan, Lebanon sudah lebih dulu hancur akibat krisis perbankan, krisis politik dan kemanusiaan, serta pandemi Covid-19. Kini, pemerintah Lebanon telah memberlakukan keadaan darurat.

Pemerintah Lebanon telah meminta bantuan IMF untuk pencairan dana perbaikan kota. Banyak negara sahabat juga memastikan siap membantu Lebanon untuk bangkit. Tak sedikit pula organisasi maupun perorangan yang membuka penggalangan dana untuk membantu pemerintah Lebanon merecovery Beirut.

Salah satu industri yang terkena dampak dari berbagai krisis Lebanon dan ledakan Beirut adalah fesyen. Industri fesyen Lebanon telah berkembang pesat dengan semakin banyaknya desainer kreatif yang berhasil menciptakan karya-karya yang indah. Busana avant garde hingga haute couture karya para desainer Lebanon berhasil mencuri perhatian pemerhati maupun penikmat mode internasional.

“Saya baik-baik saja, tapi rumah dan studio hancur. Saya harus segera memiliki recovery plan,” demikian pesan singkat yang ditulis desainer muda asal Beirut Roni Helou kepada Sarah Mower, Vogue’s Chief Critic.

Tak hanya Roni, ada pula desainer perhiasan ternama, Mukhi bersaudara yaitu Maya, Meena, dan Zeenat yang juga terpukul karena gerai mereka rusak parah.

Desainer Salim Azzam kemudian memulai aksi sosial dengan menawarkan ruang untuk teman-temannya menetap sementara di tempatnya di distrik Chouf, Mount Lebanon.

Di berbagai wilayah di Beirut, kita bisa melihat para pemuda turun tangan membantu mereka yang kesulitan di jalan-jalan juga menggagas berbagai aksi sosial guna mengajak semua orang membantu semampu mereka.

Menurut Salim, setiap orang harus bergerak. “Saat ini kita tidak mungkin berdiam diri di rumah. Semua orang ada di kota. Kami, warga Lebanon, sudah akrab dengan berbagai kerusakan ini. Seperti membawa kita pada masa perang dulu. Namun melihat semua orang bahu-membahu dan saling membantu menjadi mood booster untuk kami,” ujarnya.

Kota Beirut telah lama menjadi pusat kreativitas para desainer di Timur Tengah. Dengan sejarah panjang penjajahan Perancis, Beirut menjelma menjadi sebuah kota dengan kekayaan budaya yang menakjubkan, komunitas yang terampil, kreatif, serta penuh imajinasi.

Wilayah Gemmayzeh di distrik Rmel, Beirut adalah area yang sangat popular di timur Lebanon. Secara arsitektur, wilayah tersebut dipenuhi gedung-gedung kuno nan megah yang menyatu dengan bangunan-bangunan modern. Perpaduan antara rumah-rumah dan pertokoan.

Di sana, terutama di Rue Gouraud, berjejer restoran, pub, galeri seni, toko buku, dan gerai-gerai mungil yang menjadi tempat favorit untuk berbelanja. Bisa dibilang, Gemmayzeh adalah “rumah” bagi fesyen di Beirut.

Salah satu desainer yang menetap sekaligus membuka studio fesyen di Gemmayzeh adalah Rabih Kayrouz yang dikenal dengan houte couture bergaya chic-modern.

Dengan bencana yang bertubi-tubi, para desainer Beirut tetap menyatakan diri mereka “baik-baik saja”, terlepas dari runtuhnya rumah maupun studio kreatif tempat mereka mencurahkan imajinasi dan kerja keras. Para desainer lebih memikirkan bagaimana nasib orang lain, terutama para perajin, penjahit, pembordir, juga tukang emas yang selama ini menjadi tulang punggung karya mereka.

Selama ini, para desainer memanfaatkan SDM lokal dari berbagai penjuru Lebanon dan memaksimalkan potensi kekayaan budaya mereka. Cynthia Merhej misalnya. Pemilik brand Renaissance ini mempertahankan kesuksesan nenek buyutnya yang menciptakan couture brand di era 1920-an. Cynthia sangat setia menghadirkan napas Lebanon dalam karya-karyanya.

Salim Azzam mempekerjakan 30 perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Mereka adalah perempuan dari desa-desa di wilayah Mount Lebanon yang memiliki keterampilan bordir rakyat tradisional. Mereka kemudian dilatih keterampilan menghias baju dengan gambar bunga, buah, burung, hingga ranting pohon zaitun.

Para desainer muda yang tumbuh dalam suasana konflik dan ketidakpastian justru memiliki karakter yang ‘khas’. Mereka adalah generasi yang sangat percaya diri, optimis dan mampu menciptakan peluang, serta saling menjaga satu sama lain. Mereka bekerja keras dan penuh dedikasi untuk menciptakan kreasi yang mengagumkan.

Melansir Vogue, ada satu personal way untuk membantu para desainer untuk tetap bertahan di tengah kondisi yang sangat menyulitkan ini. Para pecinta fesyen bisa membeli karya para desainer berbakat Lebanon, seperti di matchesfashion.com. Hasil penjualan tersebut tidak hanya dinikmati para desainer tapi juga akan disumbangkan kepada berbagai komunitas dan gerakan kemanusiaan di Lebanon.

“Harapan kami sepenuhnya bergantung pada pasar internasional karena di sini tidak ada seorang pun yang mampu membeli. Kami ingin dunia dapat melihat bahwa yang kami lakukan lebih dari sekadar membuat baju. Kami ingin berbagi tentang keindahan negeri kami, budaya kami, dan semua kreativitas yang kami punya,” ujar Salim.

Bagi para desainer Beirut, berkarya bukan semata menghasilkan karya indah melainkan juga menghasilkan manfaat besar bagi sesama yang membutuhkan. Meski sama-sama terpuruk, para desainer mencoba bangkit untuk saling menguatkan. Semoga semangat mereka untuk berkreasi dan berbagi tak akan padam.(F)

 

 

 

Close X

Louis Vuitton Luncurkan Face Shield Mewah Seharga Hampir Rp 15 Juta, Tertarik Beli?

Sebelumnya

Nina Nugroho: Optimis Membangun Bisnis Fesyen Bagi Pemula

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Fashion