KOMENTAR

BAGI saya yang berkecimpung di majalah perempuan muslim, yang pertama terbayang tentang Uzbekistan adalah profil perempuan-perempuan cantik-putih-tinggi semampai-langsing yang mencari peruntungan lalu laris manis menjadi model di Indonesia selama lebih dari satu dekade ini.

Dua nama yang paling mencuat menurut saya adalah Ilmira Usmanova dan Senk Lotta, yang sukses merebut hati banyak fashion designer dan fotografer tanah air.

Namun, setelah membuka lembar demi lembar Di Tepi Amu Darya karya mahajurnalis (meminjam istilah Jaya Suprana) Teguh Santosa, wawasan saya seolah memuai. Uzbekistan tidak sekadar lenggak-lenggak di atas catwalk atau wajah cantik yang menggeser dominasi model lokal di negeri sendiri.

Uzbekistan  menjadi salah satu nama penting di dunia yang menjadi ‘benang merah’ antara Uni Soviet dan Afganistan. Uzbekistan bahkan disebut dalam bagian empat buku ini sebagai pewaris cadangan virus antraks milik Soviet. Kontan, imajinasi saya mengaitkannya dengan Chernobyl disaster di Ukraina. Namun yang ini lebih mengerikan karena daya serang antraks bisa menjangkau seluruh dunia.

Untungnya, ketakutan tentang antraks itu tidak serta merta menjadi kesan terakhir saya tentang buku ini. Di benak awam seperti saya yang tidak terlalu mengikuti konflik Afganistan, buku ini menjadi pemandu. Saya menyebutnya sebagai novel sejarah kontemporer.

Berbagai informasi faktual dan dokumentasi foto di dalamnya menarik untuk dibaca. Pembagian bab yang tidak terlalu panjang, catatan kaki pada sidebar buku, kalimat-kalimat yang mengalir ringan, juga gaya menulis reportase yang personal, membuat saya tanpa sadar mengangguk-angguk.

Ibarat mahasiswa yang mendapat pengetahuan baru dari dosen di depan kelas. Meski demikian, begitu banyak nama tersaji dalam buku ini: nama tokoh dan daerah, yang pasti membuat saya kesulitan jika harus menghafalnya.

Dari awal, persepsi kita dibuka dengan kemungkinan blowback yang digaungkan Chalmers Johnson. Blowback yang menghantui Amerika adalah konsekuensi dari berbagai kebijakan masa lalu yang diterapkan Amerika untuk memperjelas kekuatannya di negara-negara yang mereka kuasai atau mereka incar, termasuk di dalamnya menciptakan berbagai krisis. Kebijakan masa lalu Amerika ini adalah bagian dari lomba ‘menguasai dunia’ versus Uni Soviet.

Maka ketika dunia terhenyak akibat serangan nine eleven di WTC New York, islamophobia merajalela. Al Qaeda adalah Taliban, Taliban adalah Afghanistan, dan Taliban adalah Islam. Begitulah opini yang dibentuk.

Dan saya kala itu sibuk membagi pengetahuan terbatas saya tentang konsep rahmatan lil alamin dalam Islam kepada teman-teman di kampus yang menuduh Islam adalah teroris. Saya tidak paham tentang blowback atau kaitan nine eleven dengan Cold War. Ada baiknya teman-teman saya tersebut membaca buku ini.

Di sini ditulis informasi tentang Amerika yang memberi dukungan pendidikan militer bagi warga Afghanistan (baca: Taliban) yang ingin melawan kekuatan Soviet yang mencoba menguasai negara itu selama tujuh tahun peperangan. Kepentingan Amerika di Afghanistan adalah untuk memutus pengaruh Soviet di Asia Tengah dan Asia Selatan dengan Afghanistan sebagai gerbangnya.

Dan Taliban, setelah ‘mendewasa’, melihat bahwa Amerika tidak peduli dengan rakyat Afghanistan dan Islam, justru berbalik menyerang ‘induk semang’nya.

Well, it’s a blowback, right? Jadi bukan semata semangat jihad membabi-buta yang membuat Osama bin Laden memilih Menara Kembar untuk dihancurkan. Buku ini juga memperlihatkan beberapa blowback lain terkait intrik politik dan intelijen Amerika di kancah internasional.

Buku ini menjadi lebih ‘ringan’ dibaca karena ulasan tentang perang, fakta sejarah, juga konteks yang mengiringi berbagai peristiwa ditulis berdasar pengalaman pribadi penulis. Uniknya, buku yang sarat dengan kekayaan pengalaman jurnalistik ini justru dibuat untuk meluruskan kesalahan yang terjadi 17 tahun silam.

Ya, dari sekian kisah tentang penantian menunggu jembatan persahabatan di atas sungai Amu Darya dibuka untuk masuk ke Afghanistan, kisah salah mengenali patung Imam Tirmizi adalah kisah favorit saya karena berhasil membuat saya senyum senyum sendiri namun tetap membuat saya terkagum-kagum.

Tulisan tentang Imam Tirmizi dan Hakim Tirmizi, Tashkent dan Termez, Lembah Ferghana, Yuri Gagarin dan Neil Amstrong, CIA vs KGB, bom darat yang diturunkan pesawat Amerika ke Afghanistan, ranjau darat di perbatasan Uzbekistan-Tajikistan, konflik Irak, serta kondisi perang dingin Amerika vs Soviet selama lima dekade, bisa menjadi referensi bagi mereka yang ingin tahu seperti apa konflik kawasan yang melanda Afghanistan menciptakan kengerian termasuk bagi daerah-daerah tetangga.

Di akhir buku, kita bisa melihat gambaran Afghanistan terkini, 17 tahun setelah penulis singgah di tepi Amu Darya, dari penuturan langsung Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia Roya Rahmani.

Selepas membaca buku ini, saya merasa seperti ‘terhubung’ dengan Ilmira dan Senk Lotta.

Ternyata Indonesia sudah mendapat tempat spesial di hati masyarakat Uzbekistan sejak lama. Tidak lain karena Presiden Soekarno begitu dikenang di sana karena berkat Bung Karnolah makam Imam Bukhari ditemukan.

Dan ternyata, kesan saya tentang Afghanistan sebagai negara yang kejam bisa sedikit memudar. Rakyat Afghan adalah korban dari pertikaian antara para elit kelompok juga negara super power yang berebut pengaruh. Deep down inside, rakyat yang sudah lelah masih tetap menginginkan perdamaian hadir utuh di tengah kehidupan mereka.

Mudah-mudahan penulis tidak harus menunggu 17 tahun lagi untuk kembali menyajikan kisah konflik negara-negara di belahan dunia lain yang telah ia jelajahi dalam 10 tahun terakhir ini.

 

 

 




ASEPHI Tegaskan Komitmen Dukung Pemerintah Tutup Social Commerce

Sebelumnya

Makin Nyaman! PT. KAI Luncurkan Kereta Ekonomi New Generation

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News