Ilustrasi bunga dan cincin dalam pernikahan yang bahagia/Worldpress
Ilustrasi bunga dan cincin dalam pernikahan yang bahagia/Worldpress
KOMENTAR

PROSES perceraian pesohor ini sangat menyedot perhatian warganet. Alasan perpisahan tersebut menjadi perdebatan hangat, yaitu nafkah. Sang istri sedang berada dalam posisi yang sangat baik, pendapatannya tinggi dan kemampuan finansialnya mengagumkan. Sementara sang suami, jauh berada di bawahnya.

Namun, bukan karena suami tidak memberikan nafkah atau lari dari tanggung jawab, hanya karena nominal kecil yang membuat bahtera rumah tangga itu mulai karam. Padahal, tidak mudah mencari suami dengan tipikal sepertinya.

Dalam Islam, kondisi perkenomian yang seimbang antara suami dan istri dikenal dengan nama sekufu. Kondisi ini jelas dapat menghindarkan pertikaian di kemudian hari. Lantas, bagaimana jika tidak demikian?

Dijelaskan Holilur Rohman dalam buku Hukum Perkawinan Islam Menurut Empat Mazhab Disertai Aturan yang Berlaku di Indonesia (2021: 05), menurut mazhab Syafi’I, pada dasarnya menikah dengan orang yang tidak sekufu tidaklah diharamkan. Akan tetapi, kafa’ah menjadi syarat sah nikah yang digantungkan pada keridaan wali dan si perempuan.

Jika wali dan si perempuan rela dengan calon suami yang tidak sekufu dan kerelaannya diucapkan secara jelas, maka pernikahan tersebut sah adanya. Tetapi jika tidak, menjadi tidak sah.

Kekuatan cinta memang sangat dahsyat. Tetapi, kita hidup dalam realita sehingga ukuran sekufu memang perlu jujur diperhitungkan. Tidak mudah bagi seorang putri konglomerat menikah dan membalikkan gaya hidupnya yang mewah menjadi serba dalam keterbatasan, sebesar apapun cintanya.

Tidak ada yang melarang menikah dengan calon pasangan yang memiliki perbedaan ekonomi sangat tinggi. Tetapi, tentu ada kriteria sekufu yang bisa digunakan untuk saling jujur mengukur kemampuan diri.

Khadijah, konglomerat superkaya. Kekayaannya bahkan mempengaruhi duapertiga perekonomian Mekkah. Saat menikahi Khadijah, Nabi Muhammad merupakan seorang pemuda yang kaya raya. Hal tersebut sebagaimana tercermin pada mas kawin yang dipersembahkannya untuk Khadijah.

Di sini tercermin bahwa unsur sekufu secara finansial memang telah dipertimbangkan. Khadijah yang kekayaannya melebih Nabi Muhammad, dengan senang hati menerima lamaran dan pada akhirnya pernikahan agung tersebut berjalan dengan bahagia. Tidak sedikitpun ia meremehkan kemampuan finansial suami.

Kuncinya adalah mengedepankan agama. Karena, pernikahan memang sangat berat dan tanpa pegangan agama tidak akan mampu bertahan. Kriteria sekufu bisa dijadikan pertimbangan, tapi keyakinan agama akan memberi kekuatan bahkan menganugerahkan energi lebih dahsyat dari sekadar cinta.

Sebagaimana Einstein mengatakan, “Hidup yang tenang dan sederhana memberikan lebih banyak kebahagiaan dibanding mengejar kesuksesan yang terus terikat dengan ketidaktenteraman”.




Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Sebelumnya

Surah Al-Waqiah dan Ketenteraman Jiwa Seorang Muslim

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur