Ilustrasi para pendosa/SANAD
Ilustrasi para pendosa/SANAD
KOMENTAR

BERADA di antara orang-orang saleh bukan jaminan sukses meng-upgrade kapasitas diri. Adakalanya rendah hati lebih menyelimuti kalbu tatkala menyaksikan betapa dahsyatnya kualitas keimanan mereka.

Menjadi orang saleh bukanlah perkara mudah, meskipun bukan pula sesuatu yang mustahil. Tetapi, jika berat rasanya berpacu dengan orang-orang saleh, maka berlomba dengan para pendosa juga boleh dicoba.

Maksudnya, tentu bukan berpacu dalam urusan perbuatan dosa, melainkan berlomba memperbaiki diri, berlomba bertobat. Pendosa bisa dijadikan cerminan, bahkan tetap ada surga bagi para pendosa sebab Allah Swt menyediakan tobat yang pintunya terbuka sangat lebar. Sesungguhnya yang demikian itu masih termasuk dalam agenda fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Ibnu Muhammad Salim dalam buku Keajaiban Istighfar Doa Pembersih Dosa (2006: 69) menulis, Sabda Nabi, “Setiap manusia adalah pendosa, dan sebaik-baiknya pendosa adalah orang yang selalu bertobat.” (HR. At-Tirmidzi).

Ya, setiap manusia. Bukan monopoli orang awam seperti kita saja. Manusia pilihan Allah pun tumbuh dari kesalahan-kesalahan masa lampau. Nabi Ibrahim menemukan agama tauhid melalui suatu runtutan upaya yang keliru. Nabi Musa melakukan pembunuhan yang  takdisengaja, tetapi lalu menyesali dan mengambil pelajaran darinya. Nabi Daud diajari suatu pelajaran penting yang menyadarkannya akan kesalahannya di masa lampau.

Bedanya, para nabi itu bersegera menjadikan kesalahan sebagai titik awal perjalanan spiritual mereka melalui tobat.

Melalui pengalaman berdosa akan menunjukkan bahwa kesalahan bukanlah akhir dari pengalaman jiwa, melainkan permulaan dari perjalanan tobat yang mendalam. Pesan yang diambil dari sabda Nabi menjadi jelas, setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki potensi untuk bertobat dan berkembang secara keimanannya melalui pengakuan kesalahannya.

Kesalahan bukanlah stigma, tetapi peluang untuk menjadi sebaik-baiknya diri.

Aid Abdullah Al-Qarny dalam bukunya Jangan Takut Hadapi Hidup (2013: 200) menerangkan dengan indah, bahwa kita semua merupakan pendosa. Barang siapa yang mengaku bahwa ia tiada pernah berbuat dosa, maka sungguh ia telah mendustakan Allah.

Ketika Rasulullah Saw telah mengetahui bahwa semua hamba pasti akan berbuat salah, maka beliau pun berkata, “Dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik”. Artinya, jika Anda telah berbuat dosa, maka segeralah berbuat kebaikan.

Sebagaimana diterangkan pada surat Hud ayat 114, yang artinya, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)”.

Dalam perjalanan hidup ini, kita sering dihadapkan pada keputusan dan pilihan yang menentukan arah kehidupan. Di antara banyak rintangan dan godaan, terdapat nasihat bijak untuk berlomba dalam persaingan yang konstruktif.

Meskipun bersaing dengan orang saleh merupakan sesuatu yang mulia, tetapi terkadang berlomba dengan para pendosa dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk memperbaiki diri.

Ketika berlomba dengan para pendosa, kita menemukan potensi besar untuk memperbaiki diri. Proses ini bukanlah perlombaan menuju kesempurnaan, melainkan upaya berkelanjutan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Dengan lebih melihat ke dalam diri dan bersaing demi mewujudkan kemungkinan pembaruan, kita membangun pondasi yang kuat untuk menjalani hidup dengan makna terindah sebagai hamba Allah.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur