post image
Jika kita kembali membaca pesan Rasulullah, kita seharusnya menyadari bahwa manusia yang sukses adalah manusia yang berhasil menaklukkan hawa nafsunya/ Net
KOMENTAR

RASULULLAH saw. pernah mengatakan bahwa jihad yang utama adalah perjuangan seseorang melawan dirinya sendiri dan hawa nafsunya.

Hawa nafsu merupakan potensi negatif yang ada dalam diri manusia. Hawa nafsu yang 'membungkus' seseorang akan membutakan dan membuatnya tuli. Mata hatinya tumpul dan kotor berdebu. Akibatnya, akan sulit bagi orang tersebut untuk menerima kebenaran dan nasihat kebaikan.

Rasul paham betul bagaimana bahaya hawa nafsu. Karena itulah ia tak pernah bosan mengingatkan umatnya agar berhati-hati dengan hawa nafsu. Tak lain karena hawa nafsu—yang cenderung kepada nafsu perut, nafsu seksual, dan amarah—hanya akan menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan yang menyesatkan. Sekali pun kita menyesal di kemudian hari, tak akan bisa mengubah keburukan yang kita lakukan saat dikendalikan hawa nafsu.

Di zaman modern ini, kita selalu mengidentikkan kesuksesan manusia dengan keberhasilannya memiliki "kehidupan idaman" yang menjadi impian hampir setiap insan: kaya raya, berpendidikan tinggi, populer.

Padahal jika kita kembali membaca pesan Rasulullah yang ada di awal tulisan ini, kita seharusnya menyadari bahwa manusia yang sukses adalah manusia yang berhasil menaklukkan hawa nafsunya.

Misalkan saja seseorang yang populer di tengah masyarakat. Popularitas kerap dianggap sebagai satu ciri kesuksesan seseorang. Ketika kepopuleran itu dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan serta tidak disalahgunakannya untuk berbuat kecurangan dan kemaksiatan, maka ia terbilang pribadi yang sukses.

Kepopuleran tidak menjadikannya pribadi yang dikuasai hawa nafsu walau kesempatannya terbuka lebar. Kepopuleran tidak menjadikannya pribadi yang menuhankan hawa nafsu. Kepopuleran tidak membuatnya tunduk pada hawa nafsu. Dan itulah yang menjadikan orang tersebut pantas disebut orang paling sukses.

Apa yang membuat seseorang bisa menundukkan hawa nafsunya?

Itu karena dia memelihara qalbun salim dalam dirinya. Qalbun salim dalam bahasa Arab dimaknaik sebagai hati yang sehat, bersih, dan selamat. Hati yang senantiasa condong kepada laa ilaaha illallaah. Hati yang selalu mengingat bahwa ajal manusia pasti akan tiba. Dan hati yang senantiasa menuntun pemiliknya untuk berjalan di jalan Islam.

Ketika hati bersih, kita akan kuat menghadapi rintangan seberat apa pun. Kita memadukan ikhtiar dan tawakal dalam jiwa. Hati yang jernih membuka pikiran lebih luasa untuk menemukan solusi dari berbagai masalah.

Itulah sejatinya hakikat kesuksesan manusia. Tanpa qalbun salim, manusia tersukses di mata manusia lain sekali pun hanya akan merasakan setitik kenikmatan sebelum ia menyesali semua 'pencapaian' yang diperjuangkannya.

Close X

Mustajabnya Doa Dzun Nuun Nabi Yunus

Sebelumnya

Suamiku Masih Butuh Doa

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam