post image
Burung Cendrawasih/Net
KOMENTAR

DALAM soal keindahan bulu, dua jenis burung ketat bersaing yaitu burung merak versus burung cenderawasih.

Penampilan merak maupun cenderawasih agak beda dengan manusia.

Yang jantan cantik berbulu indah-permai warna-warni sementara yang betina kurang menarik sebab berbulu biasa-biasa saja tanpa warna-warni.

Caper

Merak dan cenderawasih jantan gemar pamer keindahan bulu demi caper alias cari perhatian kaum betina.

Warna warni bulu burung memang bukan untuk menyamar sesuai lingkungan atau menakut-nakuti lawan, namun khusus sebagai bagian kodrati proses reproduksi.

Merak tersebar luas ke berbagai pelosok planet bumi, sementara sekitar 45 jenis cenderawasih lebih fokus berdomisili di kawasan benua Papua sampai ke pulau-pulau sekitarnya termasuk Australia Timur-Laut.

Jantan cenderawasih lazimnya poligamis, sementara betina cenderawasih secara mandiri tanpa bantuan jantan membangun sarang serta mengasuh anak-anak cenderawasih sampai dewasa untuk mampu hidup mandiri.

Masyarakat Papua menganggap cenderawasih sebagai satwa kebanggaan yang secara undang-undang dilindungi kelestariannya oleh pemerintah Indonesia maupun Papua New Guinea serta Australia.

Populasi cenderawasih sempat menyurut akibat ditangkap kemudian diperdagangkan dalam bentuk diawetkan maupun dalam kondisi masih hidup.

Bagi masyarakat China, cenderawasih dianggap sebagai penjelmaan burung mitologi China yaitu phoenix yang merupakan lambang monarki China.

Bulu cenderawasih sangat digemari sebagai aksesori adibusana maupun dekorasi interior rumah.

Perdagangan cenderawasih merambah sampai ke Jepang, India, Eropa dan Amerika Serikat.

Little Tobago

Burung cenderawasih di dalam bahasa Inggris disebut sebagai Bird of Paradise.

Pada tahun 1908, seorang pengusaha Inggris bernama William Ingram membeli Pulau Little Tobago khusus untuk suaka memelihara burung-burung tropis.

Setahun kemudian Ingram membawa 47 cenderawasih remaja dari Papua ke Pulau Little Tobago demi menyelamatkan para cenderawasih dari angkara murka penangkapan manusia di Papua.

Setelah Ingram meninggal dunia, para ahli waris menyerahkan Little Tobago kepada Pemerintah Trinidad dan Tobago sebagai suaka burung langka terutama cenderawasih.

Burung-burung cenderawasih hasil kembang-biak 47 cenderawasih yang dipindah dari Papua ke Little Tobago mampu bertahan hidup minimal sampai tahun 1958 di mana mereka diabadikan dalam film yang dibuat oleh tim kerabat-kerja National Geographic.

Kemudian tidak lagi terdengar berita tentang cenderawasih Pulau Little Tobago setelah pada tahun 1963 dilanda badai-topan Hurricane Flora yang memusnahkan segenap populasi cenderawasih di Pulau Little Tobago.

Tentu saja diharapkan agar nasib kepunahan cenderawasih di Pulau Little Tobago jangan sampai dialami para cenderawasih yang hidup di wilayah nusantara tercinta kita.

Close X

Minal Aidzin Wal Faidzin

Sebelumnya

Semangat Swasembada Versus Nafsu Impor

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jayasupranalogi