Ilustrasi suami istri bahagia/Net
Ilustrasi suami istri bahagia/Net
KOMENTAR

TIDAK bisa diremehkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah yang mengajak istrinya jalan pagi, kegiatan yang bagi sebagian pasangan modern terasa semakin mahal. Bukan disebabnya kurangnya kesibukan, melainkan Nabi Muhammad memang mengutamakan keluarganya, selain beliau juga menjalankan tugas kepala negara dan juga mengemban amanah sebagai utusan Allah. 

Beliau tidak menyisakan waktu bagi istrinya, melainkan memang menyediakan waktu terbaik bagi pasangan hidupnya. Setiap sore selepas salat Ashar, Nabi Muhammad menyambangi istrinya, lalu bercengkerama dari hati ke hati. Tidak ada hal-hal berat yang dibicarakan, tetapi hanyalah obrolan ringan namun berkualitas untuk suatu hubungan. Dan berbagai dinamika hubungan suami istri yang dialami oleh Rasulullah, itulah yang menjadi suri teladan bagi umatnya.

Poin pentingnya ialah betapa penting proses tafahum (saling memahami) antara suami istri. Jangan pernah mencukupkan diri pada proses ta’aruf (saling mengenal) saja, karena saling memahami akan menjadi modal berharga dalam keharmonisan suami istri.

Azmi Abubakar dalam bukunya Pernak-Pernik Pernikahan (2021: 13) menuliskan, keharmonisan perkawinan harus selalu dipupuk dan dijaga dengan selalu mengenal karakter pasangan (ta'aruf) agar mampu berkomunikasi dengan baik, saling memahami (tafahum) dan saling tangggung jawab (takaful) menjadi pijakan utama untuk mencapai keharmonisan perkawinan.

Nabi jalan pagi bersama istri, tidak membahas yang berat-berat, tetapi membangun tafahum dengan cara yang ringan. Suasana santai itu mendukung terciptanya chemistry atau kimia cinta, yang kemudian berujung kepada saling memahami. Tafahum itu tidak melalui tuntutan meminta dipahami, melainkan kesadaran yang terbangun dari hati.

Tanpa komunikasi, akan sulit membangun tafahum (saling memahami). Tetapi jenis komunikasi yang dibangun jangan pula yang intimidatif, melainkan yang bersifat intim. Ngobrol santai sore hari dalam suasana rileks membuktikan kepiawaian Nabi Muhammad membangun keintiman jiwa dengan istrinya.  

Saat disediakan waktu khusus bagi suami istri bukanlah kesia-siaan, melainkan keutamaan dalam pernikahan. Jadi proses tafahum ini bukanlah dengan mengandalkan rumus: kau tahu yang kumau, bukan pula dengan mengajukan daftar tuntutan agar menjadi pasangan idaman. Tafahum itu dengan membangun keintiman jiwa, bahkan yang diteladankan oleh baginda Nabi Muhammad adalah dengan cara yang santai.

Tobroni dalam buku Memperbincangkan Pemikiran Pendidikan Islam (2018: 249) menerangkan, setelah ta’aruf kemudian meningkat menjadi tafahum. Tafahum adalah sikap saling pengertian dan saling memahami keadaan orang lain secara komprehensif, khususnya mengerti dan memahami kekurangan dan kelebihan orang lain yang meliputi sifat, karakter, kebiasaan, hobi, dan lain sebagainya. Dengan adanya sikap tafahum ini, hubungan sosial dapat lebih harmonis, lebih terjaga dari ketegangan dan konflik akibat kesalahpahaman. 

Ada lho pasangan yang mengamalkan wasiat tafahum ala Rasulullah, justru amalan ini menyelamatkan rumah tangga di masa-masa genting. Adalah pandemi yang memporak-porandakan keluarga tersebut, ekonomi yang terguncang ikut meruntuhkan relasi hubungan suami istri. Pertengkaran demi pertengkaran tidak dapat dihindari lagi dan anak-anak turut pula menjadi korban. 

Sebuah buku tentang rumah tangga Rasulullah Saw yang mengubah suasana membara menjadi adem. Suami membaca episode Nabi Muhammad yang menyediakan waktu sore untuk bercengkerama. Sang istrinya membaca episode Rasulullah dan Aisyah yang asyik jalan pagi. 

Meski agenda kegiatannya tidak sama persis, pasangan tersebut betul-betul menyediakan waktu berdua saja, tidak membahas apa-apa, tidak mempersoalkan masalah sedikitpun. Ya, hanya berdua! Ngobrol santai tentang suasana; tertawa, ceria dan gembira.

Berbarengan dari niat yang tulus, baik suami maupun istri sama-sama menyadari betapa keduanya saling mencintai, dan tanpa perlu saling menyalahkan atas peliknya kondisi, sebab pernikahan sudah menjadi benteng yang kokoh.

Kegiatan keduanya tidak ada yang mewah, ya setaralah dengan kondis ekonomi yang masih terguncang. Lebih sering suami istri itu hanya makan di kuliner kaki lima, sesuatu yang dulu tidak sudi dilakukan. 

Malah kesempatan berduaan itulah yang terasa amat mewah. Meskipun tidak lama durasinya, tanpa terasa kimia cinta pun mengalir deras di urat nadi keduanya. Berbagai persoalan suami istri yang sebelumnya dipersengketakan lumer berganti tafahum atau saling memahami.

Andai kita mau mempelajari sejarah Nabi Muhammad, khususnya pada aspek pernikahan niscaya kita akan menyadari betapa indahnya rumah tangga yang Sakinah, terlebih apabila dipayungi oleh tafahum. Tidak sulit sih prosesnya sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah dan istri. Hanya saja balik lagi kepada iktikad baik suami istri untuk berani mencoba bertafahum, setidaknya belajar untuk meraihnya.(F)




Menyibak Rahasia Syawal

Sebelumnya

Apakah Kita Layak Merayakan Kemenangan?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur