Anne Rufaidah bersama salah satu koleksinya, saat tampil di Jakarta Fashion Week 2009, Pacific Place Jakarta, 16 November 2009/Net
Anne Rufaidah bersama salah satu koleksinya, saat tampil di Jakarta Fashion Week 2009, Pacific Place Jakarta, 16 November 2009/Net
KOMENTAR

BAGI saya, yang baru saja mengenal dunia fesyen muslim, nama Anne Rufaidah masih asing di telinga. Padahal, dia memiliki nama besar pada zamannya, sebagai penggagas dan pendobrak busana muslim, yang saat itu diidentikkan dengan hal-hal yang tidak baik.

Sedikit saya membaca sebuah tulisan dari laman Inilah.com mengenai sosok Anne Rufaidah. Perempuan ini lahir di Bandung pada 15 Juni 1962. Dari artikel yang saya baca itu, di zamannya para perempuan yang memutuskan untuk menutup auratnya selalu menjadi bahan pergunjingan, disudutkan, bahkan terkadang ‘diasingkan’, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Dari situ, saya mencari tahu apa dan bagaimana sosok perempuan ini, sehingga begitu melekat dan disebut-sebut sebagai perempuang pejuang pertama dalam menggaungkan busana muslim.

Busana koleksi Anne Rufaidah saat tampil di Indonesia Fashion Week (IFW) 2017/Net

Nama besar Anne Rufaidah muncul saat ia terpilih menjadi Puteri Remaja Indonesia (1980). Putri dari E Agah Badjuri ini memulai karir desainernya pada 1981, setahun setelah terpilih menjadi Puteri Remaja Indonesia.

Anne kala itu menjadi finalis Lomba Perancang Mode (LPM) Majalah Femina, bersama rekannya yang juga anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Corrie Kastubi.

Kala itu, desainer senior ini dikenal dengan karya busana muslimah kontemporer. Kalau menurut Ketua APPMI Poppy Dharsono, Anne memiliki dedikasi yang sangat tinggi. Dia merupakan salah satu anggota awal APPMI dan mulai mempopulerkan busana muslim yang saat itu masih dipandang sebagai tren yang kurang menarik.

Tapi, apa yang menjadi pilihannya sudah benar. Anne bisa membuat sesuatu yang kala itu tidak menarik, mulai dilirik, hingga ia menjadi Ketua Divisi Busana Muslim di APPMI.

“Sudah lama dia berkarya dan menjadi salah satu pelopor busana muslim, bersama Ida Royani, namun koleksi Anne lebih ke anak muda. Kebetulan, Anne dan Ida sama-sama satu divisi muslim di APPMI, dan dia aktif sekali berkarya baju muslim,” kata Corrie, mengutip Tempo.co.

Irna Mutiara, yang juga seorang desainer, mengaku menjadikan Anne sebagai salah satu idolanya. Irna mengaku tambah terpikat kala Anne melanjutkan kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FRSD) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan membuat banyak desain busana muslimah yang saat itu masih langka. Bahkan, Majalah Gadis sempat menampilkan busana pengantin berhijab yang saat itu belum ada.

Anne juga sempat mencuri perhatian kala tampil di ajang bergengsi yang dihelat APPMI, Indonesia Fashion Week (IFW) 2017, yang bertema Celebration of Culture.

Anne bersama lima desainer kenamaan kala itu berkolaborasi menampilkan kreasi tenun khas beberapa daerah di Indonesia. Anne menampilkan 16 koleksinya yang mengangkat kekayaan alam dari Timur, menggunakan tenun Tana Toraja yang didominasi warda gold, marun, dan hitam.

Kiprah Anne tidak berhenti sampai di situ. Kecintaannya pada desain fesyen muslim dituangkan dalam buku berjudul Anggun Berkerudung di Segala Kesempatan dan Padu Padan Busana Muslim untuk Remaja.

Buku-buku tersebut berisi ide-ide kreatif untuk mengenakan kerudung sesuai syariat. Walau begitu, kerudung dan busana yang dibuatnya tetap terlihat modis, anggun, dan manis.

Anne Rufaidah, nama besar di busana muslim Tanah Air, wafat di usia 58 tahun, Kamis, 9 Juli 2020. Ia tutup usia di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.




Masnu’ah, Pahlawan Ketidakadilan Gender di Pesisir Demak

Sebelumnya

Bangkit dari Titik Terendah, Sri Mulyani Ingat Pesan Ibu untuk Berpegang Teguh pada 3 Hal Ini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women