post image
KOMENTAR

POSISI keluarga besar Bani Hasyim mengalami guncangan setelah kematian Abdul Muthalib. Karena sepeninggal dirinya, tidak ada lagi putranya yang menyamai kharisma Abdul Muthalib sebagai tokoh utama Mekah. Putra-putranya pun terbelit dengan persoalan masing-masing; Abu Thalib sibuk mengemban amanah sebagai kepala keluarga yang tidak banyak berharta tetapi beranak banyak, si sulung Haris juga mengalami masalah yang sama. Sedangkan Abbas yang tergolong kaya malah bersifat kikir. Dari itulah, Bani Umayyah yang merupakan keturunan Abdu Syams mengincar posisi strategis yang dulunya dipegang Abdul Muthalib.

Sekalipun bukanlah orang kaya raya yang memikul amanah keluarga besar, Abu Thalib memiliki keunggulan yang disukai masyarakat Mekah berupa akhlaknya yang terpuji. Dia juga didampingi istri terhormat yang santun perangainya,  Fatimah binti Asad. Keberadaan Abu Thalib itulah yang membuat kedudukan Bani Hasyim tetap berpengaruh di Mekah dan juga dalam pelayanan Ka’bah.  

Amanah Abu Thalib kian bertambah tatkala memikul wasiat dari Abdul Muthalib agar dirinya melanjutkan pengasuhan sang cucu. Namun, kehadiran Rasulullah dipandang oleh Abu Thalib sebagai berkah, apalagi istrinya Fatimah binti Asad menunjukkan kecakapan menunaikan tugas mulia sebagai ibunda.

Justru pengasuhan Rasulullah berlangsung paling lama bersama Abu Thalib, semenjak beliau berusia 8 tahun hingga akhirnya menikah dengan Khadijah. Dalam rangkaian masa yang demikian panjangnya, keharmonisan tercipta karena baik Nabi Muhammad maupun Abu Thalib sekeluarga sama-sama memiliki kecocokan dalam dimensi kebaikan.

Kepribadian mulia yang menonjol pada diri Nabi Muhammad menemukan keserasian dengan Abu Thalib dan keluarganya. Kendati masyarakat Mekah di masa itu tengah dicemari oleh prilaku jahiliyah yang buruk, Abu Thalib sekeluarga tetap tegak di atas nilai-nilai luhur kehidupan.

Abu Thalib pun lebih mengistimewakan putra adiknya itu daripada anak-anak kandungnya sendiri. Dia mengingat wasiat Abdul Muthalib yang mengatakan potensi diri Nabi Muhammad yang akan menjadi manusia utama di masa mendatang. Rasa kasih itu kian mengental disebabkan keadaan Rasulullah yang sudah yatim-piatu semenjak usia dini.

Rumah tangga Abu Thalib dan Fatimah binti Asad makin berkah dengan kehadiran Nabi Muhammad. Apabila mereka sekeluarga makan tanpa kehadiran Rasulullah, maka acara bersantap terasa hambar bahkan perut pun tidak kenyang. Lain halnya ketika Nabi Muhammad ikut makan bersama, mereka sekeluarga merasakan kenyang yang barakah.

Dalam kegiatannya, Abu Thalib menunjukkan penghormatan terhadap Nabi Muhammad, yang bertujuan mengasah rasa percaya dirinya, yang berpengaruh pada mental leadershipnya.

Ibnul Jauzi dalam buku Al-Wafa Kesempurnaan Pribadi Nabi Muhammad (2018: 112) menguraikan, dari Amr bin Sa’id, ia berkata, “Abu Thalib pernah menghamparkan bantal agar ia bisa duduk di atasnya. Lalu datanglah Nabi, beliau masih kanak-kanak, seraya duduk di atas bantal itu. Abu Thalib berkata, “Demi Tuhannya Rabi’ah, sesungguhnya anak saudaraku ini akan memperoleh anugerah yang luar biasa.”

Dari ungkapan Abu Thalib terlihat dirinya menyadari potensi besar yang dimiliki kemanakannya, yang membuat dirinya layak diberi kemuliaan semenjak usia belia.

Tahun-tahun terus berlalu, tidak terasa dalam pengasuhan pamannya Nabi Muhammad sudah berusia 12 tahun. Sebagaimana tradisi suku Quraisy lainnya, tibalah masanya mereka berjalan jauh menuju Negeri Syam, dan Abu Thalib pun turut serta untuk berdagang. Perjalanan bisnis yang sudah biasa ini menjadi luar biasa dikarenakan Nabi Muhammad ingin menyertai perjalanan pamannya.

Mengingat usianya yang masih belia, maka Abu Thalib tidak mengizinkan, perjalanan ke Syam amatlah jauh, terlalu berat bagi anak-anak yang menjelang remaja. Namun, kemanakannya itu terus mendesak hendak turut serta, dan meyakinkan dirinya mampu menjaga diri dengan baik.  

Akhirnya, Abu Thalib memperbolehkannya ikut serta dan Fatimah binti Asad pun sibuk mempersiapkan perbekalan bagi Nabi Muhammad. Dan sejarah mencatat pada usia teramat muda, Rasulullah telah mengikuti perjalanan jauh ke luar negeri, yang memberi manfaat positif bagi mentalnya, yang menjadikan dirinya punya kesempatan meraup banyak pengetahuan.

Perjalanan kafilah dagang Quraisy pun lancar-lancar saja tanpa hambatan berarti, dan Nabi Muhammad pun menunjukkan kemampuan dirinya mengimbangi perjalanan darat yang berat. Padang pasir dilalui, negeri demi negeri dilewati, yang membuat Rasulullah merasakan gelora di hatinya.

Setibanya di Bashra rombongan itu pun riang gembira, karena Negeri Syam sudah dekat, dan keuntungan dagang telah terbayang di pelupuk mata mereka. Sudah teramat sering kafilah Quraisy lewat di sana, tetapi baru kali ini perhatian seorang rahib atau pendeta bernama Buhaira tertuju dengan teramat serius.

Buhaira pendeta Nasrani atau Kristen yang mendalami kitab-kitab lama, yang dirinya banyak membaca kabar tentang tanda-tanda nabi akhir zaman. Alangkah terkejut dirinya menyaksikan keistimewaan menyertai kafilah dagang Quraisy itu.   

Dia menyaksikan tanda-tanda luar biasa pada rombongan dagang Mekah, di mana adanya naungan awan di atasnya. Kemanapun kafilah itu bergerak, ke sana pula awan berarak mengiringi.

Tentu ini bukan suatu kebetulan, tetapi Buhaira pun tidak gegabah dalam menarik kesimpulan terkait hadirnya nabi penutup sebagaimana yang diungkapkan kitab-kitab suci terdahulu. Diam-diam dia hendak meneliti dengan cermat terkait kehadiran rombongan dagang asal Mekah tersebut.

Undangan makan-makan telah diterima, yang tentunya membuat terkejut kafilah Quraisy, karena sudah sering melalui daerah itu tapi baru kali ini diundang bersantap.

Abdurrahman Umairah dalam buku Tokoh Yang Diabadikan Al-Qur`an 4 (2000: 163) menceritakan, mereka singgah di bawah naungan pohon dekat gereja Ketika awan menaungi pohon tersebut, tiba-tiba dahan yang menjulang itu melengkung sehingga memayungi Rasulullah. Tatkala Buhaira melihat kejadian itu, dia keluar dari gerejanya lalu menyuruh orang membuat makanan.

Dia mengirim utusan dengan pesan, “Hai kaum Quraisy, aku telah membuatkan makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua datang, baik yang besar maupun kecil, baik budak maupun orang merdeka.”
Salah seorang di antara mereka berkata, “Pada hari ini engkau berbeda, Buhaira. Sebelumnya, kamu tidak pernah berbuat demikian kepada kami, padahal kami sering melewati tempatmu. Ada apa sebenarnya?”

Buhaira menjawab, “Benarlah apa yang engkau katakan. Namun, kalian merupakan tamu. Aku benar-benar ingin menghormatimu dan membuatkan makanan untukmu. Makanlah kalian semua!”

Pandangan Buhaira mencermati satu per satu tamu undangan, tetapi tidak seorang pun yang miliki ciri-ciri yang dikabari oleh kitab suci. Sehingga Buhaira menanyakan siapakah anggota rombongan yang belum ikut bergabung. Mereka mengakui ada seorang anak belia, yang ditinggalkan untuk menjaga unta-unta dan barang dagangan mereka.

Atas permintaan Buhaira, anak laki-laki itu pun dihadirkan dalam undangan makan malam. Buhaira mengamati lebih teliti hingga menemukan stempel kenabian yang ada di punggung Nabi Muhammad. Buhaira pun mencium tanda itu dengan takjub.




Mereka yang Menyongsong Cahaya

Sebelumnya

As-Sabiqun al-Awwalun

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah