post image
Ilutrasi/Net
KOMENTAR

DALAM sebuah proses kehidupan, ada kalanya manusia mengalami masa-masa berat, apalagi jika sudah memasuki usia dewasa. Ia bisa berubah menjadi sangat sensitif, bahkan terhadap hal-hal sepele seperti ucapan teman atau status seseorang di Whatsapp dan media sosial lainnya.

Memang hal tersebut wajar dialami siapa saja, tapi ketika kita berusaha untuk berdamai dan memasukkan kata-kata penyemangat, kemudian terlalu cuek dan acuh dengan perasaan sesungguhnya, ini justru sangat berbahaya.

Istilahnya adalah "Toxic Positivity", yaitu asumsi, baik oleh diri sendiri atau orang lain, bahwa terlepas dari rasa emosional seseorang, mereka hanya boleh memikirkan hal-hal positif.

Contoh kalimat toxic positivity, "Udah deh, gitu aja dipikirin". Atau, "Kamu harusnya lebih kuat lagi, positif aja deh", dan masih banyak lagi.

Menurut psikolog Irma Gustiana, adanya tekanan sosial untuk tampil baik-baik saja bisa membuat seseorang menahan emosinya. Tapi kenyataannya hal itu tidak membuatnya lebih baik, justru lebih tertekan dan gelisah karena luapan emosi tidak tersalurkan dengan benar.

"Penghindaran atau penekanan ketidaknyamanan emosional menyebabkan peningkatan kecemasan, depresi, dan memburuknya kesehatan mental secara keseluruhan," tulis Irma di akun Instagramnya @ayankirma.

Akibatnya, lanjut founder Ruang Tumbuh ini, seseorang menjadi menolak memroses emosi dengan cara yang efektif. Padahal, kalimat seperti, "Tidak apa-apa kalau kamu merasa sedih, marah, kesal, atau khawatir", bisa membuat kita memanusiakan diri sendiri.

Dampak Psikis Toxic Positivity

Toxic positivity juga seringkali mengarah pada asumsi bahwa meskipun seseorang mengalami penderitaan emosional atau emosj yang sulit, mereka hanya boleh memiliki pola pikir positif, seolah tidak ada masalah dan tidak perlu dipermasalahkan.

Hal ini bisa berdampak pada psikis, seperti:

- Menjadi kurang percaya diri.
- Melemahkan dan menurunkan kualitas diri.
- Malu mengeluhkan masalah yang dialami.
- Menghindari kontak sosial, bahkan mengisolasi diri.
- Menyangkal emosi dan pada akhirnya bisa berdampak pada kesehatan emosional.

Bantu dengan Helpfull Positivity

Sadari bahwa kita tidak selamanya baik-baik saja, tidak harus melulu tampil sempurna di muka umum. Jadi stop mengatakan bahwa, "Semua baik-baik saja dan tidak perlu ada yang dipernasalahkan".

Mulai bantu diri dan teman yang mengalami toxic positivity dengan helpfull positivity, dengan cara:

1. Validasi semua emosi yang dirasakan, karena setiap emosi itu adalah normal.
2. Akui bahwa semua emosi adalah bagian dari pengalaman.
3. Katakan hal-hal seperti, "Saya ada di sini untuk menemani kamu" atau "Apa yang bisa saya bantu agar kamu merasa nyaman?"
4. Pahami bahwa tidak semua pengalaman adalah pengalaman yang baik.
5. Jadi pendengar yang aktif tanpa menghakimi atau memberikan penilaian.

Sadari pula bahwa kita tidak bisa mengendalikan emosi orang lain. Ada baiknya kita mengenali emosi yang dirasakan agar bisa menemukan solusi yang tepat.

Lakukan seleksi dan saring informasi yang bisa diterima, karena tidak semuanya bisa disetap. Dan cari "dukungan emosi" dari circle yang bisa memberikan support positif.




Benarkah Asam Urat Tinggi Picu Kolesterol Tinggi? Apa Bahayanya?

Sebelumnya

Seberapa Efektif Ekstrak Cacing Tanah dalam Mengobati Tipes?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health