Jaya Suprana (sebelah kiri)/Ist
Jaya Suprana (sebelah kiri)/Ist
KOMENTAR

SAYA beruntung memiliki seorang sahabat merangkap mahaguru kemiliteran bagi saya yang awam militer ini , yaitu tak kurang dari Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Suryo Prabowo yang pernah menjabat Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia dan Wakil Gubernur Timor Timur.

Perwira TNI AD korps Zeni ini adalah alumni AKABRI (sekarang Akmil) tahun 1976, dengan penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama sebagai taruna lulusan terbaik.

Garang

Letjen TNI Purnawirawan yang tersohor garang mengritik kebijakan pemerintah yang memang layak dikritik di media sosial itu menanggapi naskah saya berjudul “Kerajaan Soto Indonesia” (19 Februari 2020) dengan pertanyaan “Pak Jaya tahu enggak bedanya Soto dengan Coto (Makasar) dan Sroto (Banyumas)?“.

Karena tahu Pak Suryo Prabowo memang suka jahil melempar pertanyaan yang menjebak maka saya wajib berhati-hati dalam menjawab pertanyaan kultural-kulinaris itu dengan suatu jawaban tegas namun tetap bersifat jujur secara selera personal “Tahu tapi saya tetap paling suka soto aja deh !”.

Menyadari saya tidak membiarkan diri terjebak masuk perangkap pertanyaan beliau, langsung Pak Suryo Prabowo gesit garang merangsek masuk dengan jawaban oleh dirinya sendiri atas pertanyaan dirinya sendiri secara lugas gamblang terang-benderang “Ternyata bedanya Soto, Coto dan Sroto terletak pada daging yang dimasaknya : - Soto pakai daging Sapi-Coto pakai daging Capi-Sroto pakai daging Srapi“.

Menghadapi penjelasan terang-benderang sekaligus konyol-kemonyol maka mustahil dibantah seperti itu, terpaksa saya hanya bisa mengelus dada (saya sendiri) sambil nyeletuk “Ambyaaaaar tenan !“

Penulis adalah penggemar soto dengan daging sapi mau pun daging sayam eh …. ayam




Viral, Seorang Terapis Diduga Lakukan Kekerasan kepada Anak Penyandang Autisme

Sebelumnya

Menggratiskan Tes PCR Pasti Mampu Jika Mau

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jaya Suprana