post image
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

SETELAH empat dekade, ribuan wanita Iran pada hari ini (Kamis, 10/10) untuk pertama kalinya akan diperbolehkan masuk ke dalam stadion dan menonton langsung pertandingan sepakbola.

Mereka akan menonton babak kualifikasi Piala Dunia Iran 2022 melawan Kamboja di Stadion Azadi Teheran.

Gebrakan itu terjadi setelah Iran mencabut laranga berusia sekitar 40 tahujn yang hanya mengizinkan laki-laki untuk masuk ke dalam stadion dan menonton pertandingan sepakbola.

Aturan yang dilandaskan pada pendapat ulama itu melarang wanita masuk stadion karena dinilai harus dijauhkan dari sifat maskulinitas.

Namun aturan itu kemudian dicabut setelah badan sepakbola dunia FIFA  mengancam untuk menangguhkan Iran atas kebijakan kontroversialnya tersebut.

FIFA memerintahkan Iran untuk mengizinkan perempuan mengakses stadion tanpa batasan dan dalam jumlah yang ditentukan oleh permintaan tiket.

Perintah itu dikeluarkan FIFA setelah seorang penggemar sepakbola wanita Iran yang dijuluki "Gadis Biru" meninggal setelah membakar dirinya sendiri karena takut dipenjara setelah kedapatan mengenakan pakaian seperti anak laki-laki demi menyamarkan diri agar bisa masuk ke stadion sepakbola dan menonton pertandingan secara langsung.

Sang Gadis Biru itu sendiri memiliki nama asli Sahar Khodayari. Dia ditangkap pada bulan Maret tahun ini ketika dia mencoba memasuki stadion sepak bola untuk menonton pertandingan.

Dia sempat dipenjara selama tiga hari sebelum akhirnya dibebaskan dengan jaminan dan menunggu enam bulan untuk kasus pengadilannya.

Setelah enam bulan, tepatnya pada bulan September lalu, pengadilan menunda sidang karena hakim memiliki keadaan darurat keluarga.

Kemudian ketika dia kembali ke pengadilan lagi untuk mengambil ponselnya, diduga dia mendengar seseorang mengatakan bahwa jika dia dihukum, dia kemungkinan bisa dipenjara selama enam bulan hingga dua tahun.

Karena ketakutan, Khodayari kemudian menuangkan bensin ke dirinya sendiri dan kemudian nekad membakar diri di depan gedung pengadilan.

Dia sempat dilarikan ke rumah sakit Motahhari di Teheran dengan luka bakar tingkat ketiga pada 90 persen tubuhnya dan kerusakan parah pada paru-parunya. Nyawanya pun tidak dapat tertolong. Dia menghembuskan napas terakhir pada Senin, 9 September 2019.

Dikabarkan CNN, Khodayari menderita gangguan bipolar dan waktu yang dihabiskan di penjara memperburuk kondisinya.

Hal itu dibenarkan oleh ayah Khodayari yang mengatakan bahwa putrinya menderita penyakit mental dan telah menghentikan perawatan.

Kasus itu menyorot perhatian dunia. Ucapan belasungkawa dan simpati terhadap nasib Khodayari bermunculan. Di sisi lain juga muncul kecaman terhadap larangan tersebut.

Kemudian, julukan "Gadis Biru" pun muncul di sosial media. Warga net memberikan julukan tersebut karena Khodayari mengenakan kaos sepakbola dengan warna tim sepak bola Iran favoritnya, Esteghlal, yakni biru saat menyelinap ke dalam stadion dengan berpura-pura sebagai laki-laki. (F)

Untuk Pertama Kalinya ITB Punya Rektor Perempuan

Sebelumnya

Cerita Ibu Dengan Rahim Ganda, Melahirkan Buah Hati Setelah Enam Kali Keguguran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women World