post image
Mahasiswa/Net
KOMENTAR

TIDAK ada yang salah dengan demonstrasi di negara penganut sistem demokrasi seperti Indonesia ini. Masyarakat boleh mengajukan kritik dan pendapatnya untuk mengubah hal yang dianggap perlu demi kebaikan bersama.  

Namun, demonstrasi kerap menimbulkan resiko. Hal itulah yang menimbulkan kecemasan para orangtua ketika unjuk rasa ramai terjadi, dan anak-anak terpancing untuk ikut serta di dalamnya.

Demontrasi yang terjadi beberapa hari ini adalah demonstrasi mahasiswa atas UU yang dianggap tidak layak. Demonstrasi yang kemudian diikuti oleh siswa-siswa SMA dan STM. Tentu saja ini hal yang tak bisa dibenarkan, sebab siswa-siswa SMA dan STM masuk dalam usia anak-anak atau usia sekolah yang belum layak turun ke jalan mengikuti demonstrasi.

Begitu mendengar mahasiswa dan siswa ikut serta dalam aksi demo, banyak orangtua yang sangat cemas.

Farah mencoba menggali curahan hati para orangtua tentang aksi demontsrasi ini.

Naniek Wulandari (45), langsung mencari tahu keberadaan anaknya saat mendengar berita aksi mahasiswa turun ke jalan.

“Anak saya perempuan, tapi di tivi saya liat banyak juga mahasiswi yang turun. Saya takut anak saya ikut turun ke jalan. Saya coba telepon dia. Tapi tidak terjawab. Saya terus berdoa agar anak saya tidak ikut-ikutan. Karena telepon saya tidak terjawab, saya pun mengirimkan pesan, minta agar dia segera pulang. Tidak usah ikut bila ada ajakan. Tidak usah pakai alasan solider,”  kisahnya dengan wajah cemas. Belakangan Naniek agak tenang saat putrinya memastikan tidak ikut teman-temannya dan tiba di rumah dalam keadaan baik-baik saja.

“Setelah istirahat, saya coba pancing dia. Apakah teman-teman kampusnya ikutan demo. Dia jawab iya, banyak yang turun. Saya menasihatinya agar memilah mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang tidak. Mana yang penting dan mana yang tidak. Membela negara memenag penting dan kewajiban, tetapi bila ada cara lain, mengapa harus ikutan demo. Apalagi situasi sekarang bisa disebut berbahaya. Banyak oknum yang semakin memanasi keadaan. Saya tidak ingin dia menjadi korban.”

Kharisma (51 tahun) punya alasan berbeda. Ketika tahu anaknya ada di antara para pendemo yang berada di depan gedung DPR, dia juga cemas luar biasa. Namun, dia memilih banyak berdoa ketimbang meminta anaknya pulang.

“Saya mengirimkan pesan, Hati-hati dan ingat tujuanmu. Itu saja. Tidak mungkin saya melarang sebab dia sudah ada di sana. Yang saya lakukan hanya berdoa. Kharisma percaya, anaknya bisa belajar bertanggung jawab akan keputusan yang diambilnya, sebab dia mulai beranjak dewasa.

“Salah satu patokan dewasa adalabisa bertanggung jawab sendiri atas apa yang ia lakukan dan putuskan,” ujar Kharisma. “Dia melihat ada sesuatu yang tidak beres, dia ingin terlibat dalam meluruskan yang tidak beres itu. Dalam agama disebutkan bahwa kita wajib membetulkan yang tidak beres. Jadi saya pikir, biarlah dia ada di sana untuk memperjuangkan aspirasinya. Asalkan dia berada pada jalur yang benar, baik-baik saja, dan tetap berempati.”

Mahasiswa memang bukan lagi anak-anak. Mereka telah memasuki usia dewasa. Namun, itu bukan berarti mereka diberikan kebebasan sepenuhnya.

"Orang tua harus menyikapinya  dengan cara yang berbeda, ya. Kalau remaja SMA, mestinya dilarang karena memang kan masih anak-anak,” ujar Retno, yang anaknya masih duduk di bangku SMA. “Kalau mahasiswa kan sudah lebih dewasa, lebih tahu harus bersikap bagaimana.”

Retno tidak mengijinkan anaknya ikut-ikutan aksi demo. Menurutnya kalau anak SMA turun ke jalan, itu pasti karena ajakan teman-teman yang tidak bertanggung jawab. “Ya, masih anak-anak apa urusannya turun ke jalan untuk demo?”

Psikolog Ni Made Diah Ayu Anggraeni menyebutkan bahwa diperlukan pendidikan karakter yang  diterapkan oleh orang tua sejak dini.  Mengajarkan anak untuk berpikir kritis juga sangat perlu.  Orang tua  harus bisa mengajak sang anak  berdiskusi. Cari tahu bagaimana si anak memandang permasalahan tertentu.  "Namanya umur segitu,  mereka juga pasti ingin mengeluarkan pendapat dan  didengar," kata Ayu.

Melarang-larang anak yang telah berada  pada usia dewasa awal untuk mengikuti  demonstrasi juga bukan hal yang benar.  "Mereka merasa bahwa mahasiswa punya power untuk mengubah sesuatu yang dianggapnya salah."

Secara psikologis, usia mahasiswa menandai fase  kehidupan dewasa awal. Dalam  fase ini, rasa tanggung jawab terhadap hal-hal yang  lebih luas mulai muncul pada diri mahasiswa. Salah  satunya adalah tanggung jawab terhadap negara.

Selain itu, mahasiswa juga mulai memasuki usia produktif. Lengkap dengan karakter idealisme tinggi yang menempel kuat pada mahasiswa. "Mereka ini  orang-orang yang berpendidikan dan mencoba mengkritisi sesuatu," ujar Ayu.

Saat seseorang berada bersama atau tergabung ke dalam kelompok aksi, maka identitas pribadi itu akan menghilang dan melebur dengan identitas kelompok. Emosi mereka yang belum stabil patut dicermati sebab masih rentan terpengaruh oleh beragam faktor.  

"Karena namanya dewasa awal, mereka masih mudah terprovokasi," kata Ayu, seperti dilansir dari cnn. "Kita, kan, enggak tahu di lapangan ada apa, ya.  Siapa tahu ada faktor-faktor lain yang bisa  memprovokasi mereka. Itu yang harus  diperhatikan," jelas Ayu.(F)

Ketika Anak Membawa Pulang Kata-kata Kasar, Ini yang Perlu Anda Lakukan

Sebelumnya

Rayakan Hari Batik Nasional, KB Avicenna Pamulang Kenalkan Warisan Budaya Indonesia Sejak Dini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Parenting World