post image
KOMENTAR

DIA hamil. Dia dibunuh. Di kamar hotel. Di luar negeri. Si pembunuh dijatuhi hukuman ringan. Hanya karena memiliki barang milik wanita yang dibunuh. Bukan karena membunuh.

Hukuman itu begitu ringannya. Jumat minggu depan sudah bisa bebas.

Itulah salah satu kasus yang membuat hakim dan jaksa di Hongkong gemes. Jengkel. Frustrasi. Dalam upaya menegakkan hukum setegak-tegaknya.

Masih banyak kasus lain. Tapi hanya yang itu yang dijadikan pemicu lahirnya proposal yang didemo besar-besaran di Hongkong sekarang ini.

Jaksa tahu: Chan Tong Kai, 19 tahun, itu pembunuhnya. Hakim pun tahu: Chan Tong Kai itu pembunuhnya. Chan Tong Kai sendiri, pun sudah mengaku: dialah pembunuhnya.

Tapi pembunuhan itu dilakukan di Taiwan. Locus delicti-nya ada di luar Hongkong. Barang-barang bukti ada di sana. Hongkong tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Taiwan. Atau negara lain.

Hakim hanya bisa menjatuhi hukuman ringan. Itu pun karena diketahui Chan mengantongi kartu kredit milik perempuan yang ia bunuh. Dan Chan menarik uang senilai Rp 35 juta dari kartu kredit itu. Di bank Hongkong. Menggunakan PIN pacarnya. Yang dengan rela memberikan kepada Chan. Dengan prinsip orang yang lagi jatuh cinta: milikku juga milikmu.

Mencuri uang Rp 35 juta, itulah nilai hukumannya. Hakim tahu itu tidak adil. Tapi hukum harus tegak: bunyi pasalnya begitu.

Karena itu Carrie Lam ingin melakukan perubahan. Agar Hongkong bisa menyerahkan tersangka seperti Chan ke negara lain. Agar bisa dihukum di negara tersebut. Karena perbuatannya itu dilakukan di sana.

Demo Lokal

Sebelumnya

Jumat Kecil

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway