post image
KOMENTAR

KASUS Cacar Monyet (Mongkeypox) yang terjadi di Singapura menjadi kekhawatiran kita yang berjarak dekat dengan negara tersebut. Banyak yang menyebutkan bahwa penyakit ini berbahaya dan menyebabkan kematian.

Menurut  Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit cacar monyet disebabkan oleh Virus Zoonosis langka yang ditularkan ke manusia melalui hewan. Seseorang bisa terkena virus cacar monyet melalui kontak darah, cairan tubuh, atau mukosa (selaput lendir) hewan yang terinfeksi.

Karena penularannya berasal dari hewan sehingga sedikit kasus Cacar Monyet yang ditularkan dari manusia ke manusia. Melansir dari laman WHO, penularan pada manusia sangatlah terbatas.

“Cacar Monyet tidak mudah menular seperti flu. Rantai penularan juga dapat diputus melalui pelacakan kontak dan karantina," jelas  Direktur Eksekutif NCID, Profesor Leo Yee Sin. Kementrian Kesehatan Singapura juga menambahkan bahwa penyakit cacar ini penularannya terbatas, di mana pasien umumnya pulih setelah dua atau tiga hari.

Kasus cacar monyet kebanyakan terjadi di beberapa wilayah Afrika dan jarang ditemukan di negara-negara Asia. Straits Times menulis, Singapura menjadi negara Asia pertama yang melaporkan kasus tersebut. Penyakit tersebut ditularkan oleh turis seorang warga negara Nigeria yang menderita Monkeypox.

Kemenkes telah menjelaskan dalam rilisnya,  warga Indonesia tidak perlu takut dengan adanya laporan cacar monyet di Singapura. Pasalnya, penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus.

"Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul," kata Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Gejala Cacar Monyet baru timbul 14 hingga 21 hari sejak pertama kali terinfeksi virus.  Secara umum penderita  terserang demam, nyeri otot (mialgia), pembengkakan kelenjar getah bening, sakit punggung, sakit kepala hebat, kekurangan energi, dan ruam pada kulit yang diikuti munculnya kerak.

Periode erupsi kulit terjadi pada 3 hari setelah demam dimulai. Ruam mulai muncul dari area wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada 95 persen kasus, wajah pasien menjadi bagian yang paling banyak mengalami ruam, disusul dengan telapak tangan dan kaki. Dalam waktu 10 hari, luka kemudian berevolusi menjadi lepuhan kecil berisi cairan, bintil, dan akhirnya kerak.

Waspadai Hal Ini Walaupun Anak Anda Terlihat Ceria dan Aktif

Sebelumnya

Gara-Gara Selfie Bisa Kena Narsistik Personality Disorder

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health World