post image
KOMENTAR

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar diskusi nasional untuk menggali inspirasi dan mengembangkan multi usaha hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa lingkungan (jasling) di Jakarta (10/5). Diskusi nasional tersebut bertajuk “Pengembangan Usaha HHBK dan Jasa Lingkungan Menuju Revolusi Industri 4.0”

Berdasarkan hasil penelitian, potensi hasil hutan berupa HHBK maupun jasling mencapai nilai 95%. HHBK dan jasling memiliki potensi ekonomi dari pemanfaatan hasil hutan sebesar 95%. Namun belum banyak masyarakat yang mengoptimalkannya.

Menteri LHK Siti Nurbaya mengungkapkan bahwa pengelolaan HHBK saat ini umumnya masih dilakukan hanya dengan mengandalkan hasil tumbuhan secara alami. Sementara itu Izin Usaha Pemanfaatan HHBK (IUPHHBK) juga masih sangat terbatas, yaitu baru 14 unit IUPHHBK. Kondisi ini memerlukan perhatian serius pemerintah dan semua stakeholder terkait guna memaksimalkan potensi HHBK yang belum tergarap dengan baik.

“Sebenarnya upaya pembangunan HHBK dan jasling ini sejalan dengan paradigma baru KLHK dalam melakukan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, yaitu melalui perubahan konfigurasi bisnis timber management menjadi forest management, dan dari orientasi korporasi menjadi orientasi multi pelaku usaha,” ungkap Menteri Siti. Selanjutnya, perlu dilakukan penyesuaian dengan perkembangan zaman dimana era digital 4.0 mampu mendekatkan produk lokal dengan pasar.

Andy Noya sebagai moderator acara diskusi memaparkan, dirinya sering berkunjung ke desa-desa di seluruh Indonesia dan menjumpai pertumbuhan desa yang luar biasa. “Pariwisata di daerah tumbuh berkembang dengan pesat dan produk-produk lokal semakin dicari. Saya melihat bahwa masyarakat pedesaan yang tinggal jauh dari kota besar tersebut akan menyongsong masa depan yang cerah dan sejahtera,” ungkap Andy Noya.

Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Nurdin Basirun yang didapuk sebagai narasumber pertama pada diskusi nasional ini menceritakan bahwa masyarakat di daerahnya telah merasakan manfaat dari pengembangan jasa lingkungan wisata alam. “Kunjungan wisatawan meningkat sebesar 50% dari tahun lalu. Tidak sekedar berekreasi, wisatawan ini juga mencari souvenir, menikmati hidangan kuliner serta atraksi kebudayaan yang ada. Hal ini meningkatkan pendapatan usaha kecil menengah (UKM) di Kepulauan Riau, serta membuka peluang lapangan pekerjaan lainnya di sektor pariwisata,” ujar Nurdin.

Nurdin menambahkan bahwa kawasan hutan dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai obyek wisata secara berkelanjutan dengan tetap mengikuti regulasi pemerintah yang ada. Menurut Nurdin, masyarakat di Kepulauan Riau merawat dan menjaga adat dan budaya serta kelestarian lingkungan agar dapat diambil manfaatnya secara jangka panjang.

Untuk memanfaatkan keunggulan era digital 4.0, KLHK melakukan terobosan kerjasama dengan sebuah perusahaan e-commerce yang mulai menjual produk-produk HHBK secara online.

Kegiatan pengelolaan hutan harus memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, seiring dengan peningkatan produktivitas hutan serta terpeliharanya kelestarian alam. Dengan memanfaatkan keunggulan Revolusi Industri 4.0, masyarakat dapat mendekatkan produk HHBK maupun jasling kepada pasar. (F)

Ya’ahowu Nias Festival 2019 Target Menarik Wisatawan

Sebelumnya

STP Bandung Jadi Pengawas Katering Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News World