post image
KOMENTAR

DALAM rangka memperingati Hari Film Nasional (HFN) yang jatuh setiap tanggal 30 Maret, Paramitha Rusady Fans Club (PRFC) dan Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul (KPFIJ), menggelar acara Intimate With the Idol, dengan menonton bareng film jadul “Kuberikan Segalanya”, yang dilaksanakan di Balai Sarwono, Joglo Kemang, Jakarta Selatan, pada Minggu (14/4). Dalam acara nonton bareng ini, Farah Magazine berpartisipasi sebagai media partner.

Acara yang mampu mememperkuat silaturahim antara penggemar dan idola ini berlangsung sejak pukul 16:00 hingga malam. Rosa Angelika Damanik, selaku koordinator acara menjelaskan mengapa kali ini Paramitha Rusady Fans Club (PRFC) menggelar nobar film jadul Kuberikan Segalanya? Karena film ini mengangkat kisah tentang seorang penyandang disabilitas yang dapat menginspirasi kita semua. Selain itu, ia menambahkan, pesan moral yang disampaikan film ini sangat dalam.

Kuberikan Segalanya merupakan film drama keluarga yang diputar tahun 1992 ini mengisahkan tentang kehidupan sebuah keluarga yang diperankan oleh Rano Karno sebagai Faisal, seorang penyandang difabel Nihayah Abubakar sebagai Anisah, Paramitha Rusady sebagai Fitri, Deddy Mizwar, Clara Sinta, Him Damsjik, Anwar Fuady, dan Gito Gilas. Film besutan Galeb Husein ini memperoleh banyak nominasi dan penghargaan pada masanya. Sebut saja, mendapatkan penghargaan khusus, FFAP 1993, untuk kategori Film Kemanusiaan (Most Humanistic). Selain Nihayah, Rano Karno, dan Deddy Mizwar, Paramitha juga dianugerahi penghargaan sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik di film ini.

Ditemui di sela acara, Mitha menjelaskan bahwa gathering tersebut selain dalam rangka memperingati Hari Film Nasional, juga sebagai wadah celebrating para penggemarnya.


“Acara ini mengingatkan tentang kilas balik saya, dan bagaimana perjalanan karir saya dari dulu sampai sekarang. Semua profesi yang saya jalani saling berkesinambungan dan memiliki mata rantai, mulai dari bermain film, menyanyi, mencipta lagu, modelling, sampai menjadi aktivis, kemudian sekarang menjadi budayawan. Fans club ini berdiri atas inisiasi teman-teman. Akhirnya saya resmikan pada tahun 2011. Kebetulan 11 itu angka keramat saya, saya lahir tanggal 11, dan kalau dari papa itu turunan ke-11. Angka sebelas merupakan angka luar biasa bagi saya. Acara seperti ini rutin diadakan setahun sekali, tetapi dengan tema yang berbeda,” jelas Mitha.

Selain nobar, acara yang berlangsung hangat ini juga dimeriahkan games-games seru. Suasana mengharu biru ketika mengenang salah satu anggota PRFC yang sudah berpulang kepangkuan Ilahi. Ahmad Sanusi merupakan salah satu fans fanatik Mitha yang sangat loyal. Pada kesempatan tersebut, keluarga almarhum Ahmad Sanudi memperoleh bingkisan sebagai tanda kasih dari PRFC dan Paramitha Rusady. Tak hanya itu, anggota KPFIJ dari Banjarmasin, Sabirin, rela datang jauh dari Banjarmasin demi menyaksikan pemutaran film jadul dan bertemu sang idola secara langsung.


Meet and greet ini semakin spesial karena Mitha mendapatkan kejutan berupa kehadiran seorang sahabat istimewa yang sudah 7 tahun tidak bertemu, Sandra Louise, produser sinetron Karmila. Kedekatan dua perempuan ini sangat terasa, meskipun jauh di mata namun dekat di hati. Bagi Sandra, Mitha sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Selama bekerja sama dengannya, Mitha dikenal sebagai artis yang sangat detail. “She is a star, just be yourself, aura bintang sudah ada di Mitha sejak lama,” puji Sandra.

Keunikan Budaya Ibukota dalam Jakarnaval 2019

Sebelumnya

Bujang Ganong dan Cuniya, Kolaborasi Budaya Indonesia dan Ekuador

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga