post image
KOMENTAR

"MAAF, kalau boleh tahu, Ibu sedang menunggu siapa? Ada yang bisa saya bantu?"

Ia hanya pria-lajang-profesional yang kebetulan klise sekali: menyukai pantai dan senja. Biasanya ia tidak peduli dengan orang-orang, dengan manusia yang entah tetirah entah jengah dengan kesibukan sehari-harinya. Tapi, siang itu di tepi Laut Merah, beberapa jam sebelum senja mrucut dari petala langit, matanya memerhatikan perempuan tua tengah duduk di bangku panjang dengan tatapan nanar ke laut.

Ia menemukan air muka harap-harap cemas pada mata dan cara duduknya. Ia mendapati seorang ibu lanjut usia yang seperti menunggu entah siapa, entah apa. "Ibu ini bukan pengemis. Jelas. Pakaian dan, ah, ada cincin emas dan sandal LV pada tubuhnya," batinnya.

Ia melihat arloji di tangannya menunjuk pada pukul dua siang. Sedang terik-teriknya cuaca. Ia kian penasaran. Ia lalu turun dari sedan vintage VW-nya. "Maaf, kalau boleh tahu,  Ibu sedang menunggu siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, memberanikan diri.


"Ibu sedang menanti putra ibu, Nak. Katanya pergi sebentar dan akan kembali sebentar lagi," jawabnya, tidak menoleh sedikit pun kepadanya.

"Ya Rabb, rupanya ibu tua ini buta…" bisik batinnya.

 "Oke, kalau begitu, Bu. Saya permisi dulu..."

 "Ya, Nak. Terima kasih."

Perempuan Pedang Allah dalam Sejarah

Sebelumnya

Layaknya Saudara, Hati Umat Islam Menyatu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Islamic World