post image
Source Foto : Instagram/Bella Hasky
KOMENTAR

JALAN-jalan ke luar negeri bukan melulu masalah hobi atau gengsi, lebih dari itu menjelajah negara asing akan memberikan pengalaman batin yang akan membijaksanakan sikap dan mengenal diri lebih baik. Seperti yang alami oleh Bella Hasky atau yang kerap disapa Miss Turis yang sudah berkelana ke 27 negara seorang diri.

Bella Hasky mengawali debutnya sebagai solo traveler secara tak sengaja. Rencananya ia ikut jalan-jalan bareng temannya yang akan melakukan business trip ke Jerman. Tapi karena pengurusan visa schengen lebih mudah diperoleh di kedutaan Perancis, Bella pun memutuskan untuk jalan-jalan sendiri di Paris, sebelum jumpa temannya di Jerman.

Di Paris, ia nyaris jadi korban pencopetan. “Saat itu suasana ramai, tiba-tiba saya merasa tas punggung tiba-tiba ringan, reflek saya menoleh dan mendapati seorang perempuan membuka resleting tas saya, saya pun langsung menarik dan teriak. Dia langsung lari kabur, alhamdulillah tidak ada yang hilang,”tuturnya.

Pengalaman pertamanya di tahun 2015 yang kurang mengenakkan itu tidak membuatnya jera. Justru Bella merasa dengan jalan sendiri, dia jadi belajar banyak hal. Menjadi lebih mandiri, waspada dan tidak panikan jika mengalami masalah. Perjalanan juga mengajarinya untuk mengenal kelemahan dan kelebihan dirinya.

Dengan jalan sendiri membuat Bella lebih fleksible mengatur ritme perjalanannya supaya tidak terlalu lelah, mengingat kondisi tubuhnya yang gampang sakit. Ia juga lebih bebas menentukan tujuannya tanpa perlu menunggu atau mencocokkan jadwal dengan orang lain.

Belajar ragam budaya dan Bergaul dengan penduduk Lokal

Kendati menjadi solo traveler, Miss Turis tak selalu sendiri. Di tempat tujuan ia hampir selalu punya teman lokal. Sebelum berangkat, perempuan yang sering mengekspresikan kegiataannya melalui blog dan vlog ini biasanya sudah aktif berkorespendensi dan berkenalan dengan warga lokal atau orang Indonesia yang tinggal  di negara dan kota yang akan ia tuju.

Selain untuk alasan keamanan, berbaur dengan orang lokal adalah hal yang menarik bagi Mis Turis. Dengan mengenal dan berbaur dengan warga lokal, ia berkesempatan untuk belajar budaya, perilaku dan kebiasaan masyarakat di sana. Dan juga mendapatkan referensi tempat-tempat wisata anti mainstream sekaligus teman jalan.

Salah satu pengalaman menarik yang terus terkenang di benaknya adalah kejujuran masyarakat Jepang. Saat jalan-jalan di taman, ia menemukan sebuah dompet. “Saya langsung berinisiatif akan mengamankannya sebelum ditemukan oleh orang yang bermaksud buruk. Tapi teman saya mencegah, dia bilang di Jepang banyak CCTV dan biasanya orang-orang akan membiarkan barang yang tertinggal atau terjatuh. Bagi masyarakat Jepang pantang untuk mengambil yang bukan miliknya. Wah, saya salut dengan kejujuran orang Jepang, tapi saya juga khawatir, karena tidak semua yang melihat dan menemukan orang Jepang atau orang jujur, mengingat banyak turis dan pendatang di sini yang tidak semuanya memiliki itikad baik,” jelasnya.

 

 

Teman Bella lalu menyarankan untuk melapor ke polisi. Polisi mengatakan memang 4 hari sebelumnya ada yang melaporkan kehilangan dompet dengan ciri-ciri seperti yang Bella temukan. Polisi lantas mengambil dompet di TKP dan memeriksa isinya yang ternyata masih lengkap sesuai yang dilaporkan pihak yang kehilangan. Setelah mengamankan, polisi pun menghubungi pemilik dompet tersebut.

Traveling dan  Hijab

Sebagai muslimah yang berhijab, penampilan Bella kerap mengundang perhatian orang-orang di negara minoritas muslim yang ia kunjungi. Ada yang menyapa ramah, merespon positif namun tak jarang juga yang bersikap negatif.

Seperti yang ia alami sewaktu di Munich Jerman. Saat itu pemerintah Jerman memutuskan untuk menerima pengungsi dari Suriah. Memberikan mereka bantuan berupa makanan, uang dan pekerjaan. Kebijakan pemerintah ini ditentang oleh warga. Sebagian warga menganggap keberadaan pengungsi hanya akan menjadi beban dan menimbulkan kecemburuan sosial.


“Nah, saya kebetulan tiba di Munich 2 hari setelah kejadian itu. Mereka yang sensitif dan antipati dengan pengungsi yang notabene muslim, ikut melampiaskan kebencian terhadap saya yang mengenakan hijab. 

Ketika saya jalan-jalan, orang-orang menatap saya dengan pandangan sinis dan benci. Ketika saya ambil foto di sebuah obyek wisata, ada yang berteriak marah, melarang dengan nada kasar. Padahal kalau dia melarang dengan bilang baik-baik, saya akan menghargainya,”ungkap Bella.

Lebih Bersyukur dan Mencintai Indonesia

27 negara, 4 benua telah Bella jelajahi dengan beragam kesan dan pengalaman yang menyenangkan,mengesalkan bahkan mendebarkan. Merasakan keseruan Safari rimba raya di Afrika Selatan, Olympiade di Rio De Jeneiro, Brazil, meski awalnya ragu karena ada isu kerusuhan. Saya pernah merasakan kepanikan saat road trip di Malaysia, mobil yang membawa kita pecah ban di tol. Padahal kita harus ke Singapore, tapi malah tertahan di pinggir tol 19 jam. Sempat merasa kesal dan marah tapi kemudian tersadar. Beruntung pecah bannya di jalan tol bukan di turunan yang kanan kirinya jurang yang kita lewati sebelum jalan tol.  

Perjalanan membuat saya lebih berpikir sisi positif dalam menyikapi segala persoalan dan lebih banyak bersyukur. Semakin banyak melakukan perjalanan keluar negeri membuat kecintaan terhadap tanah air Indonesia semakin membuncah.

Jika lama di luar negeri paling kangen dengan masakan Indonesia. Sambal, sayur asem, lalapan wah menari-nari di benak. Untuk mensiasatinya kalau bepergian lama ke luar saya selalu bawa sambel, gudeg kaleng dan masakan khas indonesia yang bisa dikemas praktis dan tahan lama.

“Dulu saya berangan ingin tinggal di luar negeri, tapi setelah sering traveling menurut saya negara tempat tinggal dan bekerja terbaik dan ternyaman ya di Indonesia. Dari mulai orang-orangnya yang ramah dan lain bantu, kulinernya yang enak-enak, biaya hidup yang relatif terjangkau dan pajak yang tidak setinggi di negara Eropa. Bagi saya ke luar negeri hanya untuk jalan-jalan saja,”pungkasnya.

Tips aman Women Solo Traveling

Mengintip Playlist Musim Panas Barack Obama

Sebelumnya

Kental Akan Budaya Dan Romantika, Film Dokumenter Bali: Beats of Paradise Tuai Apresiasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga