post image
KOMENTAR

RADEN Ayu Dewi Pujiati (Dewi Yull) kini menuai apa yang telah sekian lama ditanamnya. Dikaruniai empat orang anak, dua diantaranya tunarungu tidak lantas membuatnya pasrah pada nasib. Ia terus berjuang mengantarkan keempat anaknya menjadi anak-anak yang mandiri dan berprestasi, tak gentar meski badai cobaan silih berganti.

Anak Adalah Titipan

Setiap manusia wajib hukumnya memuliakan, menjaga, merawat dan menyayangi sepenuh hati semua amanah yang dititipkan oleh Sang Pencipta. Prinsip inilah yang selalu dipegang Dewi Yull dalam membesarkan ke empat buah hatinya, (Almarhumah) Giscka Putri Agustina, Rama Putra, Surya Putra dan Muhammad Raya Putra. Giscka telah berpulang kepangkuan Ilahi pada tahun 2010 silam, Rama kini sudah berkeluarga, dan Surya sedang menuntut ilmu di Rochester Institute of Technology (RIT) New York, Amerika Serikat. Tinggalah si bungsu Raya yang selalu menemani hari-hari Dewi Yull.

“Dengan pergaulan zaman sekarang ini, merawat anak laki-laki sama beratnya dengan merawat anak perempuan. Tetapi saya mendidik mereka tidak perlu intimidasi, tidak dengan ancaman ataupun marah-marah. Karna saya melihat mereka sebagai titipan Allah yang harus saya hormati keberadaannya,” tutur pelantun lagu Kau Bukan Dirimu.

Belajar Bersyukur Dari Giscka dan Ketiga Adiknya

Pelajaran kehidupan memang tidak bisa diperoleh melalui pendidikan formal. Ini pula yang dirasakan Dewi Yull ketika memutuskan untuk menikah muda. Giscka, anak pertama hasil pernikahannya dengan aktor Ray Sahetapi terdeteksi tuli. Saat itu usia Giscka baru menginjak dua tahun. Sebagai manusia biasa, kondisi batin Dewi saat itu tentulah hancur. Betapa tidak, Giscka yang terlahir tampak normal dan lucu harus menjalani takdir yang tidak mudah dijalani. Namun sebagai ibu, Dewi sigap menghimpun semua kekuatan dan pemikiran positif demi membimbing putrinya menjadi manusia yang percaya diri.

 “Saya melihat bahwa ini merupakan kepercayaan dari Allah. Saya harus mampu merubah mindset berburuk sangka menjadi berbaik sangka terhadap Allah. Saya seorang penyanyi tetapi anak saya Giscka tidak bisa mendengar suara saya. Di situ saya harus tetap belajar bersyukur dan mencari celah untuk selalu mensyukuri,” jelas Dewi.

Ujian tidak sampai disitu. Usai kelahiran anak kedua, Rama Putra, yang dapat mendengar, Dewi kembali dititipi buah hati ketiga yang lahir dengan kondisi tuli, Surya Putra Sahetapy. Bertubi ujian itu, apakah membuat Dewi down? Dewi menjawab tidak. ia lalu menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya. Ketika ia dikaruniai Giscka yang tuli kemudian anak kedua bisa mendengar, dan ketika anak ketiga tuli juga semua jauh lebih mudah karena sudah ada autopilot-nya. Kecintaan Allah juga ia rasakan saat dipercaya kembali memiliki anak keempat yang bisa mendengar. Baginya tidak ada alasan untuk merasa terpuruk jika Allah selalu memberikan tongkat sebelum ia terjatuh.

Sungguh hal yang luar biasa, Surya yang tidak bisa mendengar memiliki kemampuan bahasa Inggris diatas anak-anak dengar lainnya. Ia juga menguasai tiga bahasa isyarat, American Sign Language, British Sign Language, dan International Sign Language. Ini merupakan bukti kebesaran dan karunia Allah. Jangan pernah berkecil hati, cemas, bingung, dan sedih diamanahi anak berkebutuhan khusus. Bagi Dewi, semua rasa itu harus dilawan. Memang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, bahkan hingga “berdarah-darah”. Belum lagi secara sosial tertekan, dipergunjingkan. Itulah hidup, supaya kita selalu bersyukur, selalu kuat dan mengembalikan semua pada Allah,”ujar Dewi.

 “Saya banyak sekali belajar kehidupan, dan belajar bersyukur dari anak-anak. Bersyukur karena diberi dan dititipkan Almarhumah Giscka dan Surya. Belajar bersyukur karena diberi dua anak yang mendengar, Rama anak artis tetapi bisa masuk S1 dan S2 Universitas Indonesia. Raya yang berprestasi tinju dan kerap menjuarai pertandingan. Surya mendapat beasiswa, dan tidak menyusahkan orang tua. Saya yakin setiap orang yang diberi ujian akan diberikan upahnya jika lulus melewati ujian tersebut,” tutur Dewi sembari tersenyum.

Di usianya yang hampir kepala enam. Dewi mengaku sangat bahagia dan menikmati hidupnya. Terutama pasangannya sekarang yang kerap dipanggil “Abi” oleh ketiga anaknya, sangat menjaga Dewi dalam segala hal, terutama dalam hal makanan.

Cara Menumbuhkan Keikhlasan

Kepada Farah, Dewi menuturkan perenungannya hingga mencapai keikhlasan. Menyerahan semua persoalan hidup hanya kepada Allah semata adalah dasar dari segalanya. Apapun yang Allah titipkan dalam kehidupan kita, anak, suami harta, semua itu titipan, baik yang sempurna maupun tidak. Allah sudah memberikan beserta kelengkapannya, fiturnya, menunya. Kita tinggal memilih dan menentukan mau bagaimana. “Jadi bila kita dikasih anak yang berkebutuhan khusus, tidak mungkin Allah menitipkan barang tidak pakai fasilitas. Namun dengan catatan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya (Qs. Ar-Ra’d:11).


Jangan pernah mengatakan “semua terserah Allah”, kecuali setelah berusaha maksimal. Pasrah itu pasif, sabar itu aktif. “Saya diberikan dua anak berkebutuhan khusus, karena itu tugas saya untuk memberikan pemahan kepada orangtua yang lain bahwa jangan hanya bilang ingin punya anak seperti Giscka dan Surya. Berdarah-darah saya mengajarkan satu kata kepada Giscka. Sampai apa yang dia mau baru saya berikan setelah dia berhasil mengucapkan satu kata, setelah saya kasih di lempar ke kepala saya sampai berdarah, itu adalah salah satu bentuk perjuangan,” pungkas Dewi tersenyum mengenang.

Bagi Dewi, kesabaran tidak boleh ada batasnya. Selesai satu persoalan, muncul persoalan lain yang harus diselesaikan. Kesabaran panjang bak cakrawala. Bagaimanapun sebagai orangtua wajib mengingatkan anak-anak bahwa hidup di dunia tidak cukup hanya dengan pandai ilmu akademik, selalu minta kepada Allah untuk diberikan ilmu rohani. Agar bahagia dunia akhirat. (F)

Jilbab Bukan Penghalang Wanita Muda Malaysia Ini Untuk Bergulat Di Atas Ring

Sebelumnya

Siapa Yang Paling Menderita Pasca Pembatasan Ketat India Di Kashmir?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Women World