post image
Mengurus si buah hati bukan hanya tanggung jawab ibu
KOMENTAR

TANGGUNG JAWAB sebagai orangtua dimulai sejak Allah menghadirkan jabang bayi di perut ibu. Menjaga janin bertumbuh sehat dengan asupan bergizi juga menjaga kualitas psikologis dan spiritual ibu, menjadi awal tugas sebagai orangtua. Namun, kewajiban tersebut bukan semata tanggung jawab ibu yang yang mengandung.

Suami-si calon ayah-juga sama bertanggung jawabnya untuk menciptakan suasana sehat bagi ibu dan bayi yang dikandung. Suami harus mampu menghadirkan senyum di bibir istri kala rasa mual menerpa demikian hebat. Suami harus bisa berempati dan membantu meringankan rasa pegal dan nyeri di tubuh istri kala kandungannya semakin membesar dan membuatnya sulit memejamkan mata di malam hari. Jika suami acuh, bukan tak mungkin istri merasa stres dan membuat kehamilannya berjalan tidak nyaman, hingga saat melahirkan.

Tanpa kekompakan, kehidupan rumah tangga akan terus-menerus diwarnai perdebatan. Tanpa kekompakan, keharmonisan suami istri tak akan terwujud. Tanpa kekompakan, peran sebagai orangtua begitu sulit dijalani. Tanpa kekompakan, pola asuh anak akan menjadi berantakan.

 

PENTINGNYA AYAH DAN IBU SEHATI

Mengapa orangtua harus sehati dalam mendidik anak-anak? Ketika sehati, maka yang keluar dari mulut ayah dan ibu akan bernilai kebaikan yang memiliki visi dan misi yang sama: anak saleh dan salehah yang menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata, penghibur hati) di dunia dan penolong kelak untuk meraih jannah.

Sedemikian berat tanggung jawab sebagai orangtua, yang jika tidak dipikul bersama maka tanggung jawab itu akan berubah menjadi beban yang menakutkan. Bayangkan ayah yang menginginkan anak tumbuh mandiri, keras mendidik anak untuk mengerjakan segalanya sendiri sejak usia dini, sementara ibu justru memanjakan anak, menyediakan segala keperluan anak, protektif menjaga anak untuk tidak boleh keluar rumah. Dua ‘kutub’ itu tentu akan menimbulkan kebingungan dalam diri anak. Bukan tak mungkin anak akan membenci ayah karena menurutnya ayah tidak sayang padanya, lalu tumbuh menjadi pribadi lemah yang selalu membutuhkan uluran bantuan orang lain.

Karena itulah ayah dan ibu harus duduk menyatukan hati. Utarakan harapan masing-masing tentang masa depan keluarga. Lalu satukanlah harapan itu dalam harmoni yang indah. Masa depan keluarga ini haruslah memprioritaskan tentang anak. Kualitas individu seperti apa yang diinginkan ada dalam diri anak. Apakah cerdas secara akademik, kuat fisiknya, kreatif dalam seni, atau berjiwa petualang. Semua sah-sah saja mengingat tantangan zaman yang kian besar, sehingga seorang individu dituntut untuk memiliki berbagai kriteria yang kompetitif untuk bertahan hidup.

Namun satu hal yang harus dipertahankan baik-baik oleh orangtua adalah nilai-nilai agama yang dilekatkan kuat dalam benak, hati, dan perilaku anak.  Tanpa agama, anak hanya akan menjadi pintar dan kepintarannya membawa mudharat. Hidupnya mungkin berlimpah kesenangan, tapi dia akan kehilangan arah. Akhirnya, anak kelak di usia dewasanya merasa hampa. Anak tidak menjadi manusia yang utuh. Ini semua karena orangtua tidak menjadikan Islam sebagai way of life dan tidak sehati dalam membesarkan anak.

Tak Cukup Teriakan Say No To Drugs, Ini Cara Tepat Jauhkan Anak dari Pengaruh Narkoba

Sebelumnya

Kesulitan Menabung Setiap Bulan? Ini Strateginya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Family World