post image
Dede Yusuf dan Sendy Ramania
KOMENTAR

“BERPISAH “selama lima tahun dari buah hati tercinta menjadi harga mahal yang harus dibayar Dede-Sendy saat mengabdi di Tanah Pasundan. Kini, mereka mendedikasikan waktu untuk anak- anak sambil tetap memberi sumbangsih positif untuk bangsa.

Sosok Dede Yusuf Macan Effendi mencuri perhatian masyarakat pada era 80 hingga 90-an. Sukses bermain dalam Catatan Si Boy bersama Onky Alexander dan Didi Petet, wajah tampan dan postur tinggi tegap khas atlet bela diri milik Dede juga merambah televisi. Aktingnya dalam sinetron Jendela Rumah Kita dan kepiawaiannya menjadi pembawa acara kuis Tak Tik Boom selama enam tahun, melejitkan nama Dede Yusuf di dunia hiburan tanah air.

Namun kesuksesan di dunia hiburan tidak membuat Dede berpuas hati. Setelah menikah dengan Sendy Ramania Wurandani pada 1999, Dede kemudian memilih berkarir di politik. Dengan niat teguh dan totalitas dalam mengusung aspirasi rakyat, ia pun berhasil menduduki jabatan penting di negeri ini. Dede tercatat pernah menjadi anggota DPRD Jawa Barat dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2008-2013. Kini, ia menjadi Ketua Komisi IX DPR RI. Bagaimana karir politik Dede mempengaruhi kehidupan keluarga kecilnya?

Saat Dua Hati Menyatu

Pertama kali mengenal Dede Yusuf yang sudah menjadi aktor dan presenter, Sendy baru duduk di kelas 3 SMA. Saat itu ia menjadi mayoret marching band SMA Tarakanita, sedangkan Dede melatih ekstra kurikuler taekwondo di SMA Sendy. Dengan perbedaan usia terpaut delapan tahun, Sendy mengaku mereka memiliki sudut pandang, pemikiran, lingkungan, dan pergaulan yang berbeda. Karena itu, meski sudah beberapa kali dihubungi Dede untuk pergi bareng, Sendy tidak langsung menerima Dede.

Sampai suatu hari, Dede mengajak Sendy menemaninya menjenguk sang ayah yang sedang sakit dan memerlukan cuci darah. Meski orangtuanya, Tammy Effendi dan Rahayu Effendi sudah berpisah sejak ia kecil, Dede senantiasa menunjukkan bakti dan hormat pada keduanya. “Melihat itu, saya langsung respect. Akhirnya kami membina hubungan selama enam tahun sebelum memutuskan menikah,” kenang Sendy.

Selama enam tahun itu, hubungan mereka sempat putus-sambung. Menurut Sendy, itu masa terberat karena ia harus bermental kuat melihat Dede beradu peran dengan banyak perempuan cantik. Belum lagi banyaknya berita hoax yang beredar di media cetak tentang Dede. Namun Sendy memilih menghadapinya dengan kepala dingin, meminta kon rmasi dari Dede, dan berusaha menjernihkan gosip yang simpang-siur.

Berpolitik Demi Bangsa

Jika dikatakan terjunnya Dede Yusuf ke politik adalah tiba-tiba, Sendy menampiknya. Ia menjelaskan bahwa sang suami sudah lama bergabung hingga masuk jajaran pengurus pusat Kosgoro. Dalam dunia organisasi, ia juga tercatat pernah menjadi Sekjen Par (Persatuan Artis Film Indonesia).

Melihat sosok suaminya yang berjiwa sosial, low pro le, apa adanya, senang bergaul dan terjun ke masyarakat, Sendy tidak heran jika akhirnya Dede memilih dunia politik. Keberpihakan Dede pada rakyat kecil, menurut Sendy bukan sebuah pencitraan. Karena Dede melihat politik sebagai peluang untuk bermanfaat bagi orang banyak dan memiliki nilai ibadah yang tinggi, dibandingkan saat ia masih menjadi pekerja seni.

Pun, dunia hiburan dan dunia politik adalah dua bidang dengan jam kerja yang tidak menentu. Namun karena sebelum menikah Dede merupakan artis dengan kesibukan yang sangat padat, Sendy sudah memahami bahwa itulah komitmen sang suami terhadap pekerjaannya. Demikian juga di politik. “Kang Dede mengatakan bahwa terjun ke politik tidak boleh coba-coba, tidak boleh setengah- setengah melangkah, tidak boleh sambil jadi artis, tapi harus bekerja untuk rakyat, melayani rakyat,” kata Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat ini.

Tahun 2004, Dede Yusuf terpilih menjadi anggota legislatif dari Partai Amanat Nasional (PAN) dari daerah pemilihan Jabar IX. Dede duduk di Komisi VII membidangi energy, lingkungan hidup, riset dan teknologi. Saat berkampanye di daerah pemilihan Kuningan, Banjar, dan Ciamis, Sendy tidak selalu bisa menemani sang suami karena anak-anak masih kecil. Karena masih baru terjun ke politik, Dede belum punya banyak pendukung, belum punya sponsor, belum punya strategi. “Alhamdulillah, Kang Dede terpilih,” ujar Sendy sambil tersenyum.

Aktif Berorganisasi

Sejak sang suami terpilih menjadi wakil rakyat, Sendy mulai aktif di Persaudaraan Istri Anggota DPR atau PIA DPR. Diakui Sendy, ia sangat menghargai Ibu Agung Laksono yang kala itu menjadi Ketua PIA DPR RI. Meski tidak berasal dari satu partai, Ibu Agung Laksono memberi kepercayaan serta mengajak Sendy berpartisipasi dalam kegiatan sosial, budaya, dan penggalangan dana. Sendy bahkan pernah menjadi Ketua event turnamen golf yang dibuka Presiden SBY.

Keputusan Sendy mencurahkan waktu untuk mendukung karir sang suami, memang karena Dede mengatakan tidak ingin mempunyai istri yang bekerja kantoran, apalagi ia pulang ke rumah sementara istri masih ada di kantor. Sendy pernah juga membangun usaha kafe dan butik, namun tidak dilanjutkan demi mendukung sang suami saat menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat.

Karena itu, ibu dari Ali ya Arkana Paramita (18) dan Kaneishia Lathifa Zahra (15) ini berakti tas lewat berbagai organisasi. Sendy tercatat pernah menjabat Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Jakarta Selatan, aktif di organisasi Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Lions Club yang bergerak di bidang kemanusiaan secara internasional, dan KADIN.

Terkait dengan kecintaannya pada kekayaan budaya Indonesia, Sendy juga aktif di organisasi Mutumanikam Nusantara yang membina perajin perhiasan di seluruh Indonesia, Wastraprema (himpunan pecinta kain adati nusantara) yang mengedukasi perajin perihal pembuatan kain- kain khas nusantara, juga Perhimpunan Kebayaku. “Semua yang saya lakukan berdasar atas hobi dan passion, alhamdulillah hasilnya bisa maksimal,” kata Sendy.

Kesibukannya di IWAPI dan WITT kemudian ia tinggalkan sejak mendampingi Dede menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat. Namun, aktivitasnya bertambah. Selain menjadi Ketua PKK dan Dekranasda Jawa Barat, Sendy didapuk menjadi Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat yang bertujuan melestarikan dan mengembangkan batik di Jawa Barat sejak tahun 2008 hingga kini. Sendy juga menjabat Ketua Umum Yayasan Pecinta Tenun Jawa Barat dan aktif di Yayasan Kesehatan Payudara Jawa Barat. Melalui perjuangannya di berbagai organisasi, Sendy meraih penghargaan Wira Karya Kencana dan Penghargaan Upakarti yang diserahkan oleh Presiden SBY. Untuk me time yang berkualitas, Sendy mengadakan arisan Lovely bersama 14 sahabatnya, LilianaTanoesoedibjo, Donna Latief, Rosa Rai Djalal, Ririen Suryo, Indah SDA, Feby, Farah Quinn, Selvy, Krisdayanti, Hana Fadel, Maya Miranda Ambarsari, Rina Salim, Margaret Vivi, dan Miana Sudwikatmono. Lovely rutin menggelar kegiatan sosial karena para anggotanya memiliki niat, visi, dan misi yang sama untuk berkontribusi positif kepada sesama.

Hidup Terpisah dengan Anak

Dalam pengabdiannya untuk masyarakat, Dede dan Sendy membayarnya dengan ‘harga mahal’. Betapa tidak, jabatan Wakil Gubernur Jawa Barat yang diemban Dede, mengharuskan keduanya tinggal berjauhan dari kedua putri mereka. Selama hari kerja, Sendy menemani Dede di Bandung, dan barulah saat weekend ia menjenguk putri-putri tersayangnya. “Rasanya berat, sedih, dan khawatir,” kenang Sendy ketika dihadapkan pada dua pilihan; menjalani tugas istri atau ibu.

Penugasan Dede benar-benar menimbulkan dilema dalam diri Sendy. Ia sadar, sebagai istri, ia harus mendukung suami setiap saat. Itu adalah komitmennya dalam pernikahan. Namun di sisi lain, ada dua putri kecil yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan kehadiran orangtua, terutama ibu. Namun, harus ada keputusan yang diambil dengan segala konsekuensinya. Anak-anak punya pilihan sendiri, maka Dede dan Sendy menghargainya. Sendy bersyukur, sang ibu membantu mengawasi cucu-cucunya.

Jikapun anak-anak ikut ke Bandung, kesibukan yang mengharuskan Dede dan Sendy pergi ke berbagai daerah tentu membuat intensitas pertemuan dengan anak sangat sedikit. Apalagi, mereka tidak punya keluarga di Bandung. Dede dan Sendy khawatir jika memaksa Li dan Neishia ikut, dapat berakibat tidak baik bagi perkembangan mental kedua putri cantik mereka. “Saya pasrahkan kepada Allah Swt. untuk menjaga dan melindungi mereka,” tutur Sendy.

Membayar ‘Utang’Masa Lalu

Saat ini, Sendy sedang menikmati masa indah bersama kedua putrinya. Ia berusaha keras membayar ‘utang’ di masa lalu, ketika hidup terpisah dari Li dan Neishia. Ia dan Dede berusaha memfasilitasi semua minat dan kebutuhan anak-anak. Sebagai ibu, Sendy selalu mengingatkan anak-anak untuk konsisten dan fokus saat menjalani pilihan hidup mereka. Dan untuk itu, Sendy berusaha untuk selalu ada untuk kedua buah hatinya.

Tiga Tips Jitu Kurangi Stres Ala Marie Kondo

Sebelumnya

Cerita Seorang Ibu Tangani Bocah Autis Ngambek Di Dalam Pesawat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Family World